Whole Brain Parenting untuk Dads

Merries Insight
14 Agustus 2019
Tumbuh Kembang
Share
Whole Brain Parenting untuk Dads

Artikel ini berisi tentang :

  1. Whole Brain Parenting Wajib Dads Coba
  2. Bagaimana cara menerapkan Whole Brain Parenting?
  3. Whole Brain Parenting Untuk Anak Tunggal
  4. Tidak Ada Hukuman Dalam Whole Brain Parenting

Banyak orang yang menganggap urusan mengasuh anak merupakan tugas dari seorang istri. Padahal sebagai ayah, Dads pun harus ikut aktif dalam kegiatan ini. Banyak penelitian yang membuktikan jika keterlibatan Dads dalam pengasuhan anak, punya dampak positif untuk tumbuh kembang Si kecil

Whole Brain Parenting Wajib Dads Coba

Ada banyak pola asuh yang berbasis disiplin yang bisa Dads coba, salah satunya Whole Brain Parenting, yang merupakan pola asuh berbasis kinerja otak sesuai dengan pertumbuhan Si Kecil dan sangat cocok diterapkan pada Si Kecil yang tidak sabaran, kurang bisa mengendalikan emosi dan  kesulitan mengikuti aturan.

 

Dalam buku berjudul 'The Whole-Brain Child' yang ditulis oleh Daniel Siegel dan Tina Payne Bryson, dijelaskan sesungguhnya otak manusia terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsi tersendiri. Seperti otak kiri yang membantu kita berpikir logis dan otak kanan yang membantu kita mengalami emosi dan membaca bahasa non-verbal. Ada juga bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan moral dan ada juga yang bertanggungjawab pada penyimpanan memori.

Semua bagian otak dan fungsinya tersebut harus bisa bekerja dengan baik bersama-sama karena jika tidak maka akan terjadi kondisi psikologis yang kurang sehat, seperti Si Kecil yang mudah tersulut emosinya, kebingungan, ketidakmampuan merespon sesuatu dengan tenang, tantrum, sedih, dan juga agresi.

Dengan Whole Brain Parenting, hal ini bisa dicegah atau diatasi karena inti dari pola asuh ini adalah orangtua membantu Si Kecil memahami suatu peristiwa, sehingga seluruh aspek psikologis dalam dirinya (seperti emosi dan logika) bisa bekerjasama dengan baik

Contoh kasus, saat Dads melihat Si Kecil berebut mainan. Si adik terus berupaya untuk meminjam mainan kakaknya dengan paksa, sementara si kakak terus menolak karena dia menganggap mainan tersebut merupakan miliknya (faktanya itu memang mainan miliknya).

Dalam kasus seperti ini, kebanyakan orang tua pasti akan mengambil jalan mudah dengan cara, meminta Si kakak untuk memberi mainan tersebut dengan alasan dia sudah besar atau dia harus mengalah untuk adiknya.

Dalam situasi ini, mungkin saja si kakak akan merelakan mainan tersebut. Tapi dalam hatinya pasti berontak karena dia merasa diperlakukan tidak adil.

Nah dengan pola asuh Whole-Brain, masalah seperti ini bisa ditekan dengan cara si kakak akan diajarkan untuk menyadari jika dia sudah tidak butuh mainan tersebut, sementara si adik akan diajarkan bagaimana cara meminjam mainan dengan baik, tanpa harus main tarik-tarikan.

Bagaimana cara menerapkan Whole Brain Parenting?

Sebenarnya sangat sederhana Dads. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sesungguhnya otak manusia terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi sendiri-sendiri. Otak kiri berfungsi untuk berpikir logis, dan otak kanan berfungsi mengalami emosi.

Selain itu, dalam otak pun ada bagian yang berperan dalam pengambilan keputusan moral, penyimpanan memori dan lainnya. Dengan mengintegrasikan seluruh fungsi otak ini, maka kondisi psikologis yang sehat akan tercapai.

Nah untuk mengintegrasikan seluruh bagian otak tersebut, hal pertama yang harus Dads lakukan adalah, dengan memberi pengertian lewat jalur komunikasi yang sederhana dan mudah dipahami.

Misalnya dalam kasus diatas, sebelum meminta si kakak untuk memberikan mainannya, Dads harus memberikan penjelasan dulu jika si kakak sudah besar dan sudah punya pola pikir positif. Hal ini berbeda dengan si adik yang hanya tahu apa yang diinginkannya, harus dia dapatkan.

Setelah itu, tarik si kakak ke masa lalu, ketika itu dia pun sama seperti adiknya. Apa yang diinginkannya, harus didapat, tanpa mau memahami kondisi orang lain.

Dari langkah ini saja, Dads sudah berhasil membangun pengertian pada Si kakak jika mainan tersebut memang miliknya. Tapi karena kemampuan berpikir si adik masih belum sampai pada konsep kepemilikan, mau tidak mau dia harus mengalah demi menghindari konflik.

Whole Brain Parenting Untuk Anak Tunggal

Sebenarnya menerapkan Whole Brain Parenting pada anak tunggal, sama seperti menerapkan Whole Brain Parenting untuk 2 anak atau lebih, yakni kunci utama yang harus dilakukan adalah, membangun komunikasi untuk menciptakan sikap pengertian.

Contohnya, saat Si Kecil merengek ingin diajak bermain, sementara Dads masih capek karena baru pulang kerja, jangan langsung menolaknya. Ajak duduk Si Kecil, kemudian jelaskan jika Dads baru pulang kerja dan masih capek, sehingga butuh istirahat sejenak.

Sebagai gantinya, Dads bisa menjanjikan akan mengajak Si Kecil bermain setelah selesai beristirahat dan makan malam bersama. Tapi ingat, pastikan Dads menepati janji tersebut.

Jangan khawatir Si Kecil tidak mengerti. Pada dasarnya, anak sudah mengembangkan pengertian sejak berusia 3 tahun, dan konsep pengertian ini akan terus berkembang seiring perkembangan usianya. (oleh Tina Payne Bryson, Ph.D., pakar parenting dan penulis buku The Whole Brain Child)

Tidak Ada Hukuman Dalam Whole Brain Parenting

Intinya Whole Brain Parenting bertujuan untuk mendorong perkembangan otak Si Kecil yang sehat, agar mereka lebih tenang dan bahagia. Makanya, dalam pola asuh ini yang terus dilatih adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain.

Bahkan untuk hukuman time out yang digunakan oleh kebanyakan orang tua untuk mendisiplinkan anak, justru tidak digunakan dalam pola asuh ini karena dianggap bisa berbahaya bagi perkembangan otak anak. (oleh Dr. Daniel J. Siegel, neuropsychiatrist, penulis buku berjudul No-Drama Discipline)

Bagaimana jika Si Kecil bertindak tidak patuh? Dalam pola asuh ini, hal pertama yang harus Dads lakukan adalah, memberi kesempatan Si Kecil untuk bicara terkait tindakannya tersebut. Si Kecil diperbolehkan berargumen untuk membela diri.

Setelah mendengarkan pembelaan Si Kecil, Dads bisa memberikan penilaian, kemudian berikan masukan yang membuat Si Kecil tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Misal saat Si Kecil menolak untuk tidur karena masih menonton TV, padahal jam tidur sudah datang. Dads bisa menjelaskan apa saja dampak jika Si Kecil melanggar jam tidur, dari mulai bangun kesiangan, kepala pusing, badan lemas dan mengantuk di siang hari.

Agar Si Kecil benar-benar percaya, Dads bisa menantang Si Kecil untuk begadang di akhir pekan, dengan tujuan agar Si Kecil merasakan sendiri dampak dari kurang tidur. Dengan begitu, dia akan memahami jika aturan yang dibuat di rumah, semuanya demi ketertiban dan kebaikan semua.