Otak Anak Autistik Kurang Fleksibel, Benarkah?

Merries Insight
16 Februari 2015
Tumbuh Kembang
Share
Otak Anak Autistik Kurang Fleksibel, Benarkah?

Saat seseorang sedang beraktivitas atau mengerjakan tugas, koneksi otak akan berjalan secara aktif. Akan tetapi tidak berlaku pada anak yang menderita autis. Berdasarkan sejumlah penelitian terbaru. Aktivitas otak pada anak dengan autistik cenderung tidak maksimal. Para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak yang mengalami gejala autistik parah mempunyai fleksibilitas otak yang rendah. Kepala penelitian yang bernama Lucina Uddin mengatakan bahwa otak anak yang tidak fleksibel menyebabkan anak-anak autistik kesulitan ketika menghadapi situsi-situasi tertentu. Beliau juga menyampaikan bahwa dengan mengetahui respon otak pada anak-anak autistik akan sangat membantu para peneliti untuk menciptakan transisi yang lebih mudah untuk anak-anak autistik tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Cerebral Cortex memang tidak mengacu langsung pada berbagai bentuk diagnosis, pencegahan, dan pengobatan anak-anak yang menderita autis. Penelitian ini memang dilakukan untuk memberi referensi dan wawasan terbaru yang jauh lebih detail seputar kinerja otak anak-anak penderita autistik.

Anak-anak penyandang autistik memang sulit berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya karena mereka tidak mampu ‘menterjemahkan’ sinyal-sinyal sosial melalui otaknya. Sebagian besar anak-anak ini sering melakukan tindakan yang berulang atau mengucapkan kata-kata yang sama secara berulang. Melalui penelitian ini, publik menjadi tahu fakta tentang kinerja otak pada sampel penelitian yang tak lain adalah anak-anak penyandang autistik. Uji scan otak pun dilakukan pada 34 anak normal dan 34 anak penyandang autistik baik saat mereka sedang beraktivitas maupun saat mereka sedang beristirahat. Aktivitas yang diujicobakan adalah tugas mengerjakan soal matematika atau membedakan wajah seseorang. Dua tugas yang berbeda ini memang sengaja diberikan dengan tujuan agar otak tertantang dan tidak tertantang untuk memecahkanya.

Pada saat mengerjakan tugas pertama, anak-anak penyandang autistik mengerjakannya tugas sebaik anak-anak normal. Namun saat beralih mengerjakan tugas kedua, aktivitas otak pada anak autis juga berbeda. Anak-anak ini menunjukan fleksibilitas otaknya mengalami penurunan. Sedang pada anak-anak normal, mereka tidak mengalaminya. Keuntungan setelah diadakannya penelitian ini adalah peneliti dapat memberikan referensi penciptaan dan pengembangan terapi baru untuk meningkatkan fleksibilitas otak anak-anak penyandang autistik.