Ini Trik Agar Si Kecil Tidak Tumbuh Jadi Anak Pendendam

Merries Insight
14 Agustus 2019
Tumbuh Kembang
Share
Ini Trik Agar Si Kecil Tidak Tumbuh Jadi Anak Pendendam

Artikel ini berisi tentang :

  1. Beri Tahu Ketika Si Kecil Salah
  2. Ajarkan Si Kecil Meminta Maaf
  3. Jangan Ungkit Masa Lalu
  4. Bolehkah memberi hukuman?

Sikap pendendam dan sulit memaafkan merupakan paket komplit sikap negatif yang harus dijauhi. Selain tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang ramah dan menjunjung tinggi adat ketimuran, sikap pendendam pun akan membuat Si Kecil sulit diterima di lingkungannya.

Berikut merupakan beberapa trik yang bisa Moms lakukan untuk mencegah agar Si Kecil tidak tumbuh jadi anak yang pendendam.

Beri Tahu Ketika Si Kecil Salah

Saat Si Kecil melakukan kesalahan, Moms harus segera mengingatkan jika apa yang dilakukannya merupakan tindakan yang tidak terpuji.

Jika dia berdalih apa yang dilakukannya hanya sekedar membalas perlakukan temannya, jelaskan jika apa yang dilakukannya merupakan bagian dari balas dendam, dan setiap balas dendam hanya akan menghasilkan dendam lainnya.

Jangan lupa, beri penjelasan yang sederhana tapi mudah dimengerti. Misalnya, Nak, saat kamu membalas mencubit temanmu, apakah itu akan membuat rasa sakit saat kamu dicubit hilang?

Tentu saja tidak. Alih-alih menghilangkan rasa sakit karena dicubit, keputusanmu untuk membalas mencubit justru akan membuat temanmu tergoda untuk mencubitmu kembali dengan alasan yang sama. Kalau begini, bukankah masalah ini tidak akan selesai dan terus berulang?

Jelaskan jika membalas dendam bukan solusi terbaik, Maafkan temanmu, dan dia akan malu untuk melakukan hal buruk lagi kepadamu.

Ajarkan Si Kecil Meminta Maaf

Meskipun bukan dia yang memulainya, tapi setelah melakukan kesalahan, dorong Si Kecil untuk meminta maaf kepada temannya. Cara ini sangat efektif untuk mengakhiri konflik, sekaligus mencegah aksi saling balas terjadi lagi.

Selain itu, dengan meminta maaf, secara tidak langsung Si Kecil telah mengajarkan kepada temannya jika setiap orang wajar melakukan kesalahan. Hanya orang-orang terbaiklah yang mampu mengakui kesalahannya, kemudian meminta maaf atas kesalahan tersebut. Orang-orang terdekat Si Kecil, termasuk Moms dan Dads, juga harus mengajarkan dan mencontohkan bahwa pendendam dan sulit memaafkan itu tidak baik.

Jika Si Kecil tidak mau meminta maaf karena alasan malu atau takut, Moms bisa mengantarkan Si Kecil untuk menemui temannya. Tapi setelah itu, biarkan dia sendiri yang meminta maaf secara langsung. Tugas Moms hanya mengantarkannya saja.

Bagaimana jika Si Kecil tetap tidak mau meminta maaf? Jangan dipaksa Moms, biarkan saja. Tapi minta dia untuk merubah sikap, dan minta Si Kecil untuk berjanji tidak akan memelihara dendam lagi.

Jangan Ungkit Masa Lalu

Nak, bukankah temanmu itu yang dulu pernah mukul kamu ya? Apakah Moms tidak asing dengan kalimat tersebut? Ya, kalimat tersebut biasanya diucapkan saat orang tua merasa kaget karena anaknya bermain kembali dengan anak yang pernah menyakiti atau melakukan kesalahannya.

Apapun alasannya, jangan pernah mengungkit masa lalu, apalagi jika masalah yang terjadi di masa lalu sudah selesai dengan cara yang baik, atau dilupakan dengan sendirinya. (oleh Jeanete Ophilia Papilaya M.Psi., psikolog dari Universitas Pattimura, Ambon)

Untuk menghilangkan sikap pendendam, Jeanete pun meminta agar Moms tidak bercerita tentang hal-hal buruk yang pernah dialami di masa lalu. Pasalnya, mengungkit luka lama, sama seperti menanamkan sikap pendendam pada Si Kecil.

Jika Moms heran dengan sikap Si Kecil yang tiba-tiba akrab dengan teman yang pernah menyakitinya, sebaiknya diam, dan sambut teman Si Kecil tersebut dengan hangat. Sikap ini merupakan salah satu cara untuk menunjukkan jika Moms dan Si Kecil mampu memaafkan dengan tulus.

Bolehkah memberi hukuman?

Dalam beberapa kasus, Moms bisa memberikan hukuman sebagai konsekuensi atas perbuatan yang dilakukan Si Kecil. Tapi ingat, bentuk hukumannya jangan sampai melibatkan kekerasan fisik. (oleh Ratih Zulhaqqi, M Psi., psikolog anak dari RaQQi - Human Development & Learning)

Menurut Ratih, anak usia 3-5 tahun umumnya sudah bisa dikenalkan dengan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukannya. Misalnya, saat Si Kecil mencubit temannya dengan dalih sebagai bentuk pembalasan, padahal Moms sudah memperingatkan dia jangan membalas.

Moms bisa memberikan hukuman, seperti membersihkan taman, menguras bak mandi atau mencabuti rumput liar di depan rumah. Jelaskan jika hukuman ini diberikan sebagai konsekuensi karena Si Kecil telah menyakiti temannya, sekaligus imbalan atas sikap pendendamnya.

Dengan cara ini, secara tidak langsung Moms sudah menunjukkan jika menyakiti dan membalas dendam merupakan hal yang buruk dan termasuk dalam kesalahan besar. Sedangkan setiap kesalahan yang sengaja dilakukan, sudah pasti ada konsekuensinya.