Hati-hati Moms, Pola Asuh Salah Bisa Sebabkan Si Kecil Alami Selective Mutism!

Merries Insight
10 Desember 2019
Umum
Share
Hati-hati Moms, Pola Asuh Salah Bisa Sebabkan Si Kecil Alami Selective Mutism!

Artikel ini berisi tentang:

  1. Hyper Parenting penyebab Si Kecil Alami Selective Mutism
  2. Definisi Selective Mutism (SM)
  3. Kapan Selective Mutism (SM) bisa terdeteksi?
  4. Terapi untuk Mengatasi Selective Mutism

Setiap orangtua sudah pasti akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk sang buah hati. Namun, terkadang kita sebagai orangtua tidak sadar bahwa pola pengasuhan yang kita lakukan sebenarnya kurang tepat dan bisa berdampak negatif bagi anak. Salah satu akibat dari pola asuh yang salah adalah bisa menyebabkan Si Kecil mengalami selective mutism.

Lalu, pola asuh yang seperti apa yang bisa menyebabkan Si Kecil alami selective mutism dan apakah definisi dari selective mutism itu sendiri? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini yuk, Moms!

Hyper Parenting penyebab Si Kecil Alami Selective Mutism

Hyper Parenting yang merupakan sebuah pola pengasuhan dengan kontrol berlebihan yang dilakukan orangtua supaya anaknya mampu mencapai yang terbaik dalam segala hal, sangat tidak disarankan untuk diterapkan oleh orangtua karena berisiko menyebabkan anak mengalami selective mutism.

Banyak sekali contoh Hyper Parenting yang tanpa kita sadari sudah orangtua lakukan terhadap anaknya. Contoh, ada orangtua yang sering beranggapan bahwa anak wajib punya banyak aktivitas supaya kelak tumbuh menjadi anak yang sempurna dan pintar. Contoh lain, ada orangtua yang menginginkan anaknya untuk selalu mendapat peringkat terbaik di kelas, atau pun mahir dalam segala bidang seperti musik, olahraga, dan seni.

Tidak jarang saat menerapkan Hyper Parenting, orang tua terlalu memaksa keinginannya pada sang buah hati dan tidak sedikit pula yang kemudian lepas kontrol, seperti membentak atau memarahi Si Kecil karena tidak mau mematuhi keinginan Moms dan Dads. Hal ini sudah pasti akan menyebabkan anak menjadi trauma.

Selective mutism memang disebabkan karena adanya trauma masa lalu. Misalnya orang tuanya sering kali membentak anak, sering menyalahkan atau sering menertawakan anak. Jadi ia tumbuh di rumah atau di lingkungan yang sering terjadi bullying. (Oleh Anggia Darmawan, praktisi psikologi, sekaligus psikolog anak Kementerian Sosial RI dan Psikoterapis)

Karena terbukti kurang baik dan bisa menyebabkan Si Kecil mengalami selective mutism , ada baiknya jika Moms dan Dads tidak menerapkan pola asuh yang satu ini.

Selain pola asuh Hyper Parenting, ada lagi penyebab selective mutism yang informasinya dilansir dari laman situs ibudanbalita.com, yaitu sifat dasar yang sudah ada dalam diri Si Kecil sejak lahir. Para peneliti yang tergabung dalam APA (American Psychological Association) berpendapat, Si Kecil yang mudah cemas cenderung akan mengalami SM yang disebabkan oleh reaksi berlebihan pada amygdala (sebuah bagian dari otak).

Amygdala secara fisiologis bekerja menerima dan memproses sinyal bahaya untuk dapat menentukan reaksi sebagai perlindungan diri. Amygdala pada anak yang mudah cemas sangat sensitif dan saat berada di kondisi yang asing atau ramai akan membuat alarm bahaya dalam dirinya menyala.

Definisi Selective Mutism

Selective Mutism (SM) bisa diartikan sebagai salah satu gangguan pertumbuhan anak-anak yang menyebabkan anak sulit berbicara. Si Kecil yang mengidap gangguan ini tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu, seperti saat berada di sekolah, tempat umum yang membuatnya tidak nyaman karena banyak orang, atau saat berada di lingkungan yang lebih banyak orang dewasa dibandingkan anak seusianya. Sebaliknya saat ia berada di lingkungan yang nyaman karena familiar, seperti di rumah, saat bermain bersama kakak atau orang tua, ia bisa lancar berbicara, bahkan terkadang terlihat sangat aktif.

“SM ini bisa diartikan sebagai fobia berbicara. Penderita SM ini pada dasarnya bukan bisu, tapi punya perilaku yang serupa layaknya seseorang yang memiliki trauma sosial. Ketika ada berada di lingkungan baru atau bertemu orang baru, tiba-tiba saja saja jadi tidak bisa berbicara. (Oleh Anggia Darmawan, praktisi psikologi, sekaligus psikolog anak Kementerian Sosial RI dan Psikoterapis).

Bagaimana jika selective mutism tidak ditangani dengan tepat? Anak-anak dengan SM akan berlanjut menjadi  sosok  yang membisu di luar lingkungan yang dikenalnya. Tidak sekadar membisu, anak pengidap SM juga bisa mengalami debar jantung yang lebih cepat, dan tangan berkeringat, layaknya seseorang yang mengalami phobia.

Jumlah anak yang mengalami SM sampai saat ini memang tidak terlalu besar, tidak lebih dari 1%. Menurut APA (American Psychological Association) jumlahnya memang masih tergolong kecil. Tetapi, pemerintah Inggris memperkirakan 7 dari 1.000 anak-anak menderita SM, sementara di kalangan remaja kemungkinannya satu dari setiap 1.000, dan di kalangan dewasa satu dari 2.400.

Bagaimana dengan di Indonesia? Saat ini belum ada penelitian atau studi yang meneliti tentang jumlah mereka yang terdeteksi mengalami gangguan SM. Semoga di masa yang akan datang akan ada penelitian atau studi tentang hal ini sehingga kita bisa mendapat informasi yang lebih lengkap.

Kapan Selective Mutism (SM) bisa terdeteksi?

Kondisi SM baru akan terdeteksi setelah Si Kecil sudah mampu bicara. Menurut para pakar dari American Pediatric Association (APA) pada kongres tahunan di tahun 2000, SM umumnya baru disadari saat anak berusia 3 tahun. Pada usia ini, mestinya anak sudah mahir bicara, sehingga terlihat perbandingan kemampuan verbal, saat anak berada di berbagai situasi dan kondisi.

Selective mutism merupakan suatu gangguan ketika seseorang menjadi diam atau “mute” pada situasi tertentu. Biasanya kondisi ini dialami pada tahap perkembangan usia anak-anak. Umumnya, kondisi ini sering terdiagnosis saat anak berusia antara tiga hingga delapan tahun. (Oleh seorang ahli psikologi bernama Thomas J. Kehle dari Universitas Connecticut).

Jadi jika Si Kecil yang sudah berusia 3 tahun tiba-tiba saja mogok bicara saat berada di lingkungan baru padahal mau berbicara di rumah, atau bahkan tiba-tiba saja diam seribu bahasa di lingkungan yang membuat ia kurang nyaman, segeralah berkonsultasi dengan ahli psikologi anak karena mungkin saja Si Kecil mengalami selective mutism.

Terapi untuk Mengatasi Selective Mutism

Menurut info yang dilansir dari laman situs ayahbunda.co.id, terapi modifikasi perilaku banyak digunakan untuk membantu mereka yang mengalami selective mutism. Terapi ini memakai teknik untuk mengurangi rasa cemas anak melalui beberapa cara seperti desensitisasi, stimulus fading techniques dan positive reinforcement. Teknik-teknik ini bertujuan melatih Si Kecil untuk mulai berkomunikasi baik dengan berbisik, yang kemudian meningkat menjadi bersuara perlahan sampai ia mampu berbicara dengan volume normal.

Satu hal yang penting diingat, terapi bagi Si Kecil dengan selective mutism yang berhasil tidak luput juga dari upaya keluarga, sekolah dan teman sepermainan dalam memberikan dukungan agar Si Kecil berani untuk me-nonaktifkan mode “mute” nya.

Semoga informasi ini bermanfaat dan jika Moms ingin informasi lebih lanjut tentang selective mutism bisa berkonsultasi dengan pakar atau ahli psikologi anak.