Wanita yang sedang hamil memang lebih rentan terkena banyak penyakit kalau mereka tidak menjaga kesehatan dengan baik. Salah satu gangguan yang ternyata dapat Moms alami saat mengandung ialah hemoroid atau bawasir/ambeien. Hemoroid cenderung dialami Moms yang baru kali pertama hamil atau bagi mereka yang sebelumnya sudah mengalami penyakit tadi, lalu bertambah buruk saat mengandung. Lantas, apa yang menyebabkan ibu hamil mengidap bawasir? Kehamilan dapat membuat pembuluh darah di dalam tubuh melebar dan menyebabkan varises pada kaki hingga vulva. Selain itu, bentuk rahim yang membesar pun memberikan tekanan terhadap vena yang ada di bagian panggul. Vena tersebut disebut juga sebagai vena kava inferior yang berperan dalam menerima suplai darah di bagian bawah tubuh. Maka tak heran kalau tekanan yang berada di bagian bawah rahim dan anus pun meningkat, lalu membuat vena melebar hingga bengkak. Kemudian, sembelit yang dialami Moms saat mengandung pun dapat memicu bawasir. Meski demikian, hemoroid bukan menjadi alasan utama untuk mengambil tindakan secsio. Namun, dalam kasus yang lebih parah, beberapa dokter akan menyarankan ibu hamil untuk melakukan hal tersebut. Moms yang tidak ingin menderita bawasir disarankan untuk rajin menyantap makanan berserat dan memiliki cairan tinggi, serta tidak lama-lama menunda saat hendak buang air besar. Di bawah ini ada faktor-faktor penyebab lain yang dapat memicu munculnya bawasir pada ibu hamil. Hormon yang tidak seimbang. Posisi si Kecil di dalam rahim yang kadang ditahan maupun dikuatkan akan meningkatkan kadar progesteron. Hormon tersebut dapat menahan makanan yang akan dibuang lewat saluran pembuangan dan secara tidak langsung memicu ambeien; Ukuran janin yang membesar. Si Kecil yang masih ada di dalam rahim mendesak pembuluh darah yang berada di sekitar perut dan panggul. Hal tersebut lantas menghambat sirkulasi darah yang kemudian mengantarkan Moms kepada bawasir; Susah BAB atau sembelit. Bukan rahasia lagi kalau ibu hamil akan sering menghadapi keluhan sembelit dan dapat menyebabkan bawasir. Gangguan ini disebabkan kurangnya supan nutrisi baik seperti zat besi di dalam tubuh; Bobot janin di dalam rahim. Semakin besar ukuran si Kecil di dalam kandungan, maka semakin organ-organ tubuh di sekitar perut terhimpit. Masalah ini ternyata dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang memicu bawasir. Semoga informasi ini membantu Moms!
Read more
Moms pasti ingin Si Kecil pintar, bukan? Nah, sebenarnya Moms sudah bisa mulai membantu Si Kecil untuk bisa tumbuh menjadi cerdas dan pintar sejak dalam kandungan. Terlihat tidak masuk akal memang, tapi hal ini sudah terbukti melalui penelitian. Menurut penelitian, 50% IQ Si Kecil diturunkan dari Moms dan Dads. Sedangkan sisanya, dipengaruhi oleh lingkungan, yaitu yang bisa Moms buat saat Si Kecil masih dalam kandungan. Lalu, bagaimana caranya? Membaca Dongeng Meski Si Kecil masih ada dalam kandungan, Si Kecil sudah bisa mendengar loh, Moms. Jadi, dengan membacakan dongeng, Moms dapat membantu Si Kecil untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya dan mendekatkan Si Kecil pada Moms. Aktif Rajin berolahraga. Saat berolahraga, tubuh Moms akan memproduksi hormon endorfin yang membuat tubuh segar dan pikiran bahagia. Si Kecil juga bisa mendapat hal ini dan menyukainya. Bahkan, hal ini dapat membantu perkembangan neuron di otak Si Kecil yang membuatnya mudah mengingat. Berjemur Moms pasti sudah tahu kalau berjemur bisa merangsang produksi Vitamin D. Vitamin D akan membantu pertumbuhan tulang dan jantung Si Kecil menjadi lebih kuat. Hal yang perlu diingat, Moms harus berjemur saat waktu yang tepat, yaitu pada pukul 6 pagi hingga 8 pagi, saat sinar mentari tidak mengandung radiasi berbahaya. Lalu, sinar matahari sebenarnya hanya menjadi pemicu untuk mendapatkan Vitamin D. Sumber Vitamin D masih berasal dari makanan yang Moms konsumsi. Pijat Coba deh, Moms memijat lembut perut Moms. Saat usia kandungan sekitar 20 minggu, Si Kecil sudah bisa merasakan sentuhan. Dengan memijat, maka dapat membantu Si Kecil lebih tenang dan merilekskan sistem sarafnya. Mengajak Berbicara Menurut seorang parenting expert, Dr. Miriam Stoppard, Si Kecil sudah bisa mendengar setelah kandungan berusia 16 minggu. Dan, saat kandungan berusia 27 minggu, Si Kecil sudah bisa memproses suara yang didengar menuju otaknya secara sempurna. Bahkan, Si Kecil sudah bisa memberikan reaksi pada kata-kata yang Moms ucapkan padanya saat berada dalam kandungan. Jadi, akan lebih baik bila Moms mengajak berbicara yang berbagai hal baik dan ini juga bisa membantu Si Kecil mengerti bahasa lebih baik saat lahir nanti. Pada dasarnya, Moms harus memperlakukan Si Kecil layaknya seorang buah hati sejak Si Kecil masih dalam kandungan. Dengan demikian, hubungan erat antara Moms dan Si Kecil sudah terbentuk sejak dini.
Read more
Suasana hati yang berubah – ubah saat masa kehamilan sudah merupakan hal biasa bagi ibu hamil. Penyebabnya pasti bermacam – macam seperti kelelahan, perubahan hormon, dan stress. Perubahan moods ini terkadang bisa membuat Moms merasa sedih sendirian tanpa ada alasannya. Moms juga bisa tiba – tiba merasa bahagia. Itulah yang dinamakan mood swing. Untuk mengatasi mood swing, Moms bisa melakukan babymoon. Efektifkah cara ini Moms? Babymoon Ke Tempat Favorite Bersama Pasangan Babymoon seringkali dimanfaatkan ibu hamil untuk menstablikan perubahan suasana hati yang naik turun tak jelas. Apa itu babymoon? Babymoon adalah bulan madu di saat kehamilan. Moms bisa menghabiskan waktu bersama pasangan untuk bulan madu yang kedua setelah pernikahan di masa kehamilan. Bulan madu ini tak kalah menyenangkan dengan bulan madu yang pertama karena Moms akan menunggu kelahiran si jabang bayi. Ada tujuan tertentu untuk melakukan babymoon ini. Salah satunya adalah  menentramkan hati dan membuat Moms lebih bahagia dan nyaman dalam menjalani masa kehamilan. Lalu, dimanakah destinasi untuk bulan madu kedua ini? Moms bisa memilih tempat – tempat terbuka ataupun yang menjadi favorite Moms dan Dads. Babymoon ini juga bertujuan untuk mendekatkan hubungan Moms dengan pasangan serta pasangan dengan calon jabang bayi. Apakah Babymoon Itu Harus Dilakukan? Selama masa kehamilan, biasanya ada beberapa hal yang harus disiapkan seperti perlengkapan jabang bayi dan lain sebagainya. Janganlah terlalu fokus dengan hal – hal tersebut. Moms bisa melakukan beberapa hal lainnya seperti babymoon agar tidak terlalu stress menyambut si bayi. Moms bisa melakukan senam kehamilan ataupun ikut pertemuan dengan ibu – ibu hamil lainnya. Buatlah suasana hati lebih santai dan nyaman lagi. Moms juga bisa melakukan babymoon sederhana bersama pasangan. Misalnya, Moms pergi ke salon bersama pasangan. Tak ada salahnya juga Moms pergi jalan – jalan ke taman kota untuk meredakan ketegangan akibat kehamilan. Moms juga bisa merencanakan babymoon murah dan menyenangkan. Misalnya Moms pergi jalan – jalan ke mall dan berbelanja pakaian bersama pasangan. Hal ini bisa menjadi salah satu agenda babymoon loh. Moms juga bisa mengajak pasangan nonton film bersama. Tetapi, pastikan bahwa Moms menonton film yang tak menimbulkan ketegangan. Moms juga bisa memanjakan lidah di acara babymoon dengan menikmati makanan sehat di restoran favorite. Jika ditanya apakah babymoon itu perlu dilakukan oleh ibu hamil? Pastinya iya, karena babymoon bisa membuat pikiran lebih santai dan tenang dalam menghadapi proses persalinan.
Read more
Memilih antara ASI atau susu formula sudah lama menjadi dilema banyak ibu. Moms yang sedang dalam tahap menyusui si Kecil pun mungkin akan atau sedang bertemu pilihan sulit ini. Meski sebagian besar ahli menyatakan ASI sebagai sumber kehidupan terbaik bagi si Kecil, tetapi tidak semua ibu mempunyai kapasitas menyusui yang baik. Beberapa di antara mereka bahkan tidak sanggup memberikan ASI bagi sang buah hati dan mau tak mau menggunakan susu formula sebagai alternatif. Apa Moms adalah salah satu di antaranya? Sebelum memberikan susu formula untuk si Kecil, sebaiknya simak tip di bawah ini untuk memilih dan memberikan susu formula yang tepat. Kadar dan Frekuensi Pemberian Dua hal ini harus Moms perhatikan sebelum memberikan susu formula untuk si Kecil. Karena kondisi tubuh yang masih rentan, si Kecil hanya bisa menerima susu formula secara bertahap. Selain itu, jenis susu tersebut tidak seperti ASI yang mudah dicerna sistem pencernaan si Kecil. Moms dapat berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan kadar dan pemberian yang akurat. Rutin Membersihkan Botol Susu Karena si Kecil tidak akan menyusui dari payudara, maka Moms harus senantiasa membersihkan botol susu yang digunakan. Berbeda dengan ASI yang steril, sisa susu formula yang menempel di permukaan botol dapat menjadi tempat sempurna untuk kuman dan bakteri berkembang biak. Kemudian, Moms juga harus mengetahui cara membersihkan botol susu dan tutupnya dengan tepat. Memilih Botol Susu Khusus Bayi Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, ternyata tidak semua botol susu aman digunakan untuk si Kecil. Carilah botol susu yang menggunakan label BPA-free yang terbuat dari polipropilen dan plastik polietilen yang relatif aman untuk si Kecil. Pastikan Moms tidak mencuci atau merebusnya, karena suhu tinggi akan mempengaruhi bahan kimia pada botol susu tersebut. Memahami Cara Membuat Susu Sebelum menyeduh susu formula, Moms harus mencuci tangan terlebih dahulu dengan memakai sabun. Kemudian, pelajari tata cara membuat susu formula yang tertera pada kemasannya. Jangan mengurangi atau menambahkan jumlah sendok, karena hal tersebut akan memberi pengaruh kepada pencernaan si Kecil nantinya. Pakai air bersih untuk menyeduh susu formula. Itulah poin-poin penting yang dapat Moms lakukan saat hendak memberikan susu formula kepada si Kecil. Semoga bisa bermanfaat!
Read more
Asupan gizi dan nutrisi yang baik akan menunjang pertumbuhan si Kecil sejak dini. Namun, ada kalanya para ibu seperti Moms mengalami dilema saat hendak mengenalkan si Kecil dengan makanan selain ASI. Salah satu masalah yang masih dipertanyakan para ibu adalah kebutuhan bumbu perasa seperti garam dan gula. Di usia ke berapa sebaiknya si Kecil diberikan makanan yang memiliki rasa? Lantas, apakah pemberian garam sejak masih bayi aman baginya? Nah, Moms, sebaiknya kita tidak memberikan bumbu perasa seperti garam di tahun pertama si Kecil. ASI dan makanan pendamping lain seperti sayur dan buah sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan gizi dan nutrisinya dengan kadar garam alami yang tidak berbahaya. Jika Moms sudah mengenalkannya dengan garam pada usia semuda itu, maka tak menutup kemungkinan tekanan darahnya akan melonjak, karena tubuh si Kecil masih sensitif dan berada di tahap pertumbuhan yang amat krusial. Di sisi lain, jangan jadikan pemberian garam sebagai alasan Moms yang merasa kasihan karena si Kecil terus menyantap makanan hambar. Padahal sebenarnya, anggapan hambar muncul dari kebiasaan kita memakan santapan yang sudah diberikan perasa. Sementara si Kecil belum mengenal banyak referensi rasa, sehingga secara tidak langsung, dia pun belum mengetahui rasa asin. Berkaitan dengan organ tubuhnya, si Kecil tidak disarankan mengonsumsi makanan yang mengandung garam karena ginjalnya belum dapat mengolah bahan tersebut secara sempurna. Jangan sampai Moms merusak fungsi salah satu organ penting tadi dengan kadar garam berlebihan. Sistem pencernaan yang masih rapuh pun tidak memungkinkan tubuh si Kecil memproses makanan bergaram. Jika Moms terus memaksa si Kecil mengonsumsi makanan bergaram, ada kemungkinan kerusakan menjalar ke otak. Lantas, bagaimana dengan bumbu perasa lain seperti gula? Tak jauh berbeda dengan garam yang bisa meningkatkan tekanan darah si Kecil, pemanis seperti gula dapat mengundang penyakit kronis seperti diabetes. Anak yang sudah dibiasakan menyantap makanan berkadar gula tinggi pun berisiko mengalami obesitas atau kegemukan. Maka dari itu, Moms harus senantiasa menjaga asupan makanannya. Makanan pendamping ASI atau MPASI tetap harus mengandung gizi dan nutrisi yang baik dari bahan-bahan alami. Jika Moms memang ingin memperkenalkannya pada rasa asin, manis, dan lain sebagainya, gunakan buah atau makanan lain yang memiliki rasa-rasa tersebut, sehingga kesehatannya pun tetap terjaga.
Read more
Sebagai seorang ibu, Moms pasti akan selalu memperhatikan tumbuh kembang si Kecil yang. Apalagi tubuhnya sedang mengalami perkembangan pesat yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Salah satu pancaindranya, yakni telinga, pun tak luput dari masa emas tersebut. Indra pendengaran si Kecil kali pertama terbentuk saat usia kandungan Moms memasuki minggu ke-8 dan selesai di minggu ke-24. Di minggu ke-25, si Kecil sudah bisa mendengar suara, salah satunya dari Moms dan Dads. Untuk meningkatkan kemampuan mendengarnya, Moms dapat mengajak si Kecil berkomunikasi walau masih satu arah. Caranya dengan mengobrol hingga melantunkan nyanyian. Momen-momen tersebut akan menjadi hal yang menyenangkan saat Moms sedang mengandung. Bukan hanya Moms, ternyata si Kecil pun merasa bahagia karena dapat berinteraksi dengan Moms dan Dads selaku orangtuanya. Di bawah ini ada penjelasan singkat tentang terkembangan indra pendengaran kecil setelah si Kecil lahir. Ketika si Kecil lahir ke dunia, dia sudah menyadari bebunyian yang ditangkap telinganya. Bahkan ada beberapa bayi yang menunjukkan kekagetan mereka saat mendengar suara keras. Seperti yang sudah disebutkan, kemampuannya dalam mendengar akan semakin membaik kalau Moms sudah sering mengajaknya berkomunikasi sejak masih ada di dalam kandungan; Memasuki usia tiga bulan, si Kecil akan merasa senang saat dia menangkap suara Moms atau Dads di sekitarnya. Jika Moms sudah membiasakan ritual mengobrol sejak mengandung, maka si Kecil pun akan merasa familier dengan suara orangtuanya. Selain itu, si Kecil bisa memberi respons seperti tolehan dan ocehan ah atau oh saat Moms memanggilnya; Ketika si Kecil berusia tujuh bulan, kemampuan indra pendengarannya kian meningkat karena dia sudah mengenal sumber bebunyian di sekitarnya. Jadi, bukan hanya suara orangtuanya, dia pun akan mengetahui bunyi-bunyi lain dari televisi, bel, ketukan pintu, hewan seperti kucing atau anjing, dan lain sebagainya; Di usianya yang ke sembilan bulan, jangkauan pendengaran si Kecil semakin melebar. Dia bisa menangkap suara dari ruangan lain kendati tidak terlalu keras. Lantas saat si Kecil berusia satu tahun atau 12 bulan, dia sudah sanggup mengatasi suara bising saat dia tengah fokus bermain. Bahkan si Kecil sudah memahami beberapa huruf dan kata. Perkembangan indra pendengaran yang begitu cepat perlu Moms manfaatkan sebaik mungkin. Sehingga si Kecil akan sanggup beradaptasi tanpa mengalami kesulitan.
Read more
Pasti sangat menyenangkan melihat Si Kecil bisa tertawa riang dan tetap aktif. Bandingkan jika Si Kecil sakit. Pasti Si Kecil menjadi tidak ceria dan malas beraktivitas. Karena itu, Moms harus mengusahakan agar Si Kecil tidak mudah sakit. Ada beberapa langkah agar Si Kecil tidak gampang sakit. Menjaga Kebersihan Si Kecil Memang sangat menyenangkan saat melihat Si Kecil bermain pasir, merangkak di lantai, mencoba ini dan itu. Tapi Moms juga tidak boleh lupa untuk menjaga kebersihan Si Kecil. Misalnya, cuci tangan Si Kecil sebelum makan. Pasalnya, banyak sekali bibit penyakit yang berasal dari luar seperti pasir, lantai, daun, dan lain sebagainya, Jika sampai masuk ke dalam mulut saat makan, maka tidak mengherankan jika Si Kecil menjadi cepat sakit. Jaga pula kebersihan kuku, baju, dan gigi Si Kecil. Hal ini juga termasuk kebersihan makanan yang akan dikonsumsi oleh Si Kecil. Pastikan bahan makanan sudah dicuci bersih dan dimasak sesuai ketentuan. Jika kebersihan Si Kecil terjaga maka Si Kecil juga tidak akan gampang sakit. Menjaga Kecukupan Cairan Menjaga cairan dalam tubuh tetap sesuai dengan kebutuhan Si Kecil sangatlah penting. Jika Si Kecil kekurangan cairan, maka risiko dehidrasi akan semakin besar. Cairan juga sangat penting untuk proses pembentukan dan kerja metabolisme. Jika metabolisme bekerja dengan lancar, maka Si Kecil juga tidak akan mudah sakit. Kebutuhan cairan bisa dengan memberikan air putih ataupun cairan jenis lain seperti susu yang aman untuk kesehatan Si Kecil. Memberikan Buah dan Sayur Sudah menjadi hal umum untuk memberikan buah dan sayur kepada Si Kecil. Buah dan sayur mengandung berbagai vitamin dan nutrisi yang sangat penting bagi Si Kecil. Saat Si Kecil mendapatkan asupan vitamin dan nutrisi, maka tubuhnya akan kuat dan tidak mudah sakit. Pastikan porsi buah dan sayurnya tepat sehingga Si Kecil bisa menghabiskannya tanpa dipaksa. Dengan memberikan buah dan sayur secara rutin, sistem imun Si Kecil akan tetap terjaga dan tidak akan gampang sakit. Memberikan Madu Madu adalah multi vitamin yang sangat dianjurkan dikonsumsi oleh semua umur termasuk Si Kecil. Manfaat utama madu adalah untuk menjaga kekebalan tubuh dan sistem imun Si Kecil. Kandungan anti kuman dan anti virus yang dimiliki oleh madu yang membuat jenis bahan ini  sangat diperlukan oleh Si Kecil. Sangat mudah bukan untuk menjaga Si Kecil tetap sehat? Lakukan secara rutin maka Si Kecil akan tetap ceria dan aktif.
Read more
Menyedihkan memang jika melihat Si Kecil sakit batuk. Si Kecil menjadi tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Keceriaannya pun berkurang karena batuk tersebut. Selain memberikan obat batuk khusus untuk Si Kecil, ternyata ada beberapa makanan dan minuman yang harus dihindari oleh Si Kecil. Jika dikonsumsi, makanan dan minuman tersebut justru akan memperparah sakit batuk Si Kecil, Moms! Lalu, apa saja jenis makanan dan minuman tersebut? Makanan dengan Potongan yang Terlalu Besar Ada baiknya mengecilkan ukuran makanan saat Si Kecil mengalami batuk. Walaupun tampak sepele tapi hal ini sangat penting. Saat Si Kecil batuk, risiko tersedak saat makan sangat besar. Karena itu, ada baiknya mengecilkan potongan makanan Si Kecil agar risiko tersedak bisa dihindari. Misalnya, kecilkan potongan wortel, melon, kentang, anggur, dan lain sebagainya. Makanan dengan Tekstur yang Keras Sama halnya dengan makanan dengan potongan yang besar, ada baiknya tidak memberikan makanan dengan tekstur yang keras saat Si Kecil batuk. Selain sulit untuk dikunyah, Si Kecil sangat terganggu dengan batuknya. Risiko tersedak pun juga menjadi lebih besar. Karena itu, ada baiknya tidak memberikan makanan bertekstur keras seperti permen ataupun kacang-kacangan. Makanan yang Lengket Memberikan jelly ataupun makanan yang terbuat dari ketan juga harus dihindari saat Si Kecil batuk. Alasannya tentu saja menghindarkan Si Kecil dari risiko tersedak. Pasalnya, makanan yang lengket sangat mengganggu tenggorokan, Moms. Minuman Jus Instan Memberikan jus buah segar memang dianjurkan untuk Si Kecil. Namun, berbeda dengan jus botolan instan yang ada di pasaran. Justru jus semacam ini akan memperparah sakit batuk Si Kecil. Jus instan biasanya mengandung banyak sekali gula. Dengan banyaknya gula, maka sistem imun Si Kecil akan terganggu. Jika sistem imun Si Kecil terganggu, sakit batuk pun jadi lebih parah dan lebih lama proses penyembuhannya. Minuman atau Makanan Asam Hindari memberikan makanan atau minuman yang rasanya asam. Justru dengan makanan atau minuman yang rasanya asam, tenggorokan akan berlendir dan menjadi lebih gatal. Tidak mengherankan jika Si Kecil akan semakin batuk. Susu Kurangi pula pemberian susu untuk sementara selama Si Kecil batuk. Pasalnya, produk susu justru menambah lendir di tenggorokan. Lendir membuat batuk semakin parah dan berdahak. Tentu saja itu akan mengganggu Si Kecil. Sekarang Moms sudah tahu jenis makanan dan minuman apa saja yang tidak boleh dikonsumsi saat Si Kecil batuk. Semoga saja hal itu akan mempercepat proses penyembuhan batuk Si Kecil.  
Read more
Pernahkah si kecil rewel dan tantrum? Tantrum adalah kondisi dimana si kecil mengamuk. Dan, ini wajar sekali ditemukan dan dialami oleh balita. Kondisi ini seringkali merepotkan Dads. Apalagi bila ini terjadi di tempat umum. Pastinya Dads butuh trik jitu untuk mengatasi si kecil yang rewel dan tantrum. Inilah beberapa cara untuk menghadapi si kecil dengan kondisi seperti itu. Jangan Terpancing Emosi Si kecil yang ngamuk dan rewel pastinya akan membuat Dads jengkel dan marah menghadapi ulah si kecil. Semarah apapun Dads saat si kecil rewel jangan pernah memukulnya. Hindarilah kekerasan verbal dan non verbal. Jangan terpancing emosi saat mengatasi si kecil yang rewel dan tantrum. Bila Dads emosi, maka si kecil akan lebih rewel dan ngamuk lagi. Dads harus lebih tenang dan sabar dalam menghadapi si kecil. Jangan Memanjakan Si Kecil Seringkali si kecil menjadi rewel dan tantrum karena Dads memanjakannya. Menuruti semua keinginan si kecil seringkali tak bisa dihindari ya Dads. Tetapi, hal ini kurang baik bagi si kecil. Terkadang si kecil rewel dan ngamuk karena ada keinginan agar Dads menuruti semua keinginannya. Jadi, jangan sampai Dads menyerah dan selalu saja memenuhi semua permintaan si kecil. Cara ini akan membentuk kepribadian yang kurang baik saat besar nanti. Mencari Tahu Penyebab Rewel dan Tantrum Si kecil rewel dan tantrum pasti ada sebabnya. Dads harus bertindak dengan mencari tahu penyebab kerewelan si kecil. Mungkin saja si kecil lapar, haus, kelelahan, kepanasan, tak enak badan, takut pada sesuatu, ataupun yang lainnya. Setiap penyebab rewel pastinya membutuhkan solusi yang berbeda. Jadi, lakukanlah pengamatan beberapa hari untuk mengetahui penyebab si kecil rewel dan tantrum. Cara ini bisa membantu meminimalkan kondisi tantrum dan rewel pada si kecil. Mengajak Berkomunikasi Saat si kecil ngamuk dan rewel, biasanya si kecil masih bisa diajak berkomunikasi. Dads bisa mencoba berkomunikasi dengan baik pada si kecil. Bila si kecil menginginkan sesuatu dengan cara menangis, maka Dads mencoba untuk menenangkannya dan mengatakan bahwa harus berhenti menangis agar Dads tahu apa yang diinginkan si kecil. Dads juga harus tegas dalam memberikan pengertian bahwa dengan rewel dan ngamuk adalah perbuatan yang tak benar yang dilakukan si kecil. Ajarilah si kecil bagaimana cara mengontrol emosinya agar tidak meledak – ledak. Dads juga jangan sekali – kali mengancam si kecil karena dia akan lebih rewel dan ngamuk lagi. Lakukanlah pendekatan secara persuasif lagi.
Read more
Si Kecil, cowok yang aktif dan bersemangat, Dads tentu saja bangga bukan. Tapi di lain sisi, dia juga bisa menjadi sumber masalah. Untuk hal ini, Dads sebaiknya menerapkan aturan yang pas buat Si Kecil. Selain agar tidak melanggar norma dan aturan yang ada, aturan ini juga diperlukan agar Si Kecil dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ada beberapa aturan yang bisa Dads terapkan untuk Si Kecil. Kasih Sayang Terapkan aturan kasih sayang, artinya Si Kecil harus melakukan tindakan dengan rasa kasih sayang. Ini penting loh, Dads. Mungkin sebagian besar orang akan menganggap bahwa sayang seperti ini hanya untuk perempuan. Tapi, laki-laki juga perlu agar fungsi utama dia sebagai kepala rumah tangga atau pelindung keluarga saat besar nanti bisa berjalan. Ditambah lagi, bila Dads mulai menerapkan aturan ini pada Si Kecil sejak dini, Si Kecil juga akan tumbuh menjadi perhatian dengan lingkungannya. Munculah sifat penolong dan tegas yang harus dimiliki laki-laki. Tidak Cengeng Menangis adalah salah satu tindakan yang dilakukan Si Kecil saat mereka mendapat masalah atau menginginkan sesuatu. Hal ini wajar, karena Si Kecil belum mampu melakukan banyak hal, dan dengan tangisan, mereka meminta tolong Dads dan Moms untuk membantunya. Dads dapat mendidik Si Kecil agar tidak mudah menangis. Laki-laki dikenal mengandalkan logikanya. Jadi, Si Kecil harus bisa mengutarakan apa yang dimaunya atau yang menjadi masalahnya tanpa tangisan. Ini akan membuat Si Kecil tumbuh menjadi pemberani dan bertanggung jawab. Menyayangi dan Menghormati Moms dan Dads Ada perbedaan antara takut dan menghormati. Takut akan timbul saat Dads dan Moms mendidik Si Kecil dengan kekerasan. Jadi, jangan gunakan cara primitif ini. Dads harus membuat Si Kecil menyayangi Moms dan Dads dengan menunjukkan kalau Moms dan Dads menyayangi mereka. Dengan cara ini, rasa hormat Si Kecil juga akan lahir. Dan, bila hal ini sudah ada, maka Si Kecil tidak akan menjadi bandel dan nakal. Mandiri Terapkan pula aturan mandiri sejak dini. Misalnya, Si Kecil harus membereskan mainannya sendiri. Ini juga akan membuat Si Kecil dapat menghargai Moms dan Dads, orang lain maupun temannya. Dan, hal terpenting yang harus Dads lakukan adalah menjadi panutan. Si Kecil bisa dikatakan sebagai mesin fotokopi paling cepat. Jadi, mereka akan mencontoh apa saja yang ada di depan mereka. Bila Dads berbuat baik dan bersikap baik sehari-hari, Si Kecil pun akan menirunya.
Read more
Mempunyai anak berbakat tentunya akan menjadi kebanggaan bagi setiap orangtua. Bakat atau talenta tiap orang tentunya berbeda dan akan menjadi lebih baik kalau terus dikembangkan. Dads pasti sering melihat atau membaca artikel mengenai anak-anak yang mempunyai talenta hebat di usia mereka yang masih dini. Mulai dari bidang akademis hingga kesenian yang biasanya baru dirintis di usia dewasa. Lantas, bagaimana dengan si Kecil? Apa dia sudah menunjukkan minat kepada hal tertentu atau belum memperlihatkan bakatnya? Dads tidak perlu cemas mengingat kemampuan setiap anak tidaklah sama. Jangan sampai keinginan Dads jadi obsesi yang membuat si Kecil tertekan. Jika dia mulai menunjukkan talentanya di depan Dads, maka sudah saatnya bagi Dads untuk membantu. Berikut ini ada beberapa saran yang dapat Dads terapkan untuk mengembangkan talenta si Kecil. Mengenali Bakat/Talenta Si Kecil Alih-alih langsung mendaftarkan si Kecil ke tempat les, Dads sebaiknya mengenali terlebih dahulu bakat yang diperlihatkan si Kecil. Sebab, bisa saja ketertarikan si Kecil bersifat sementara, lalu dia pindah ke hal lain begitu sudah bosan. Di sisi lain, kalau si Kecil memang menikmati hal tersebut—misalnya menari begitu mendengarkan lagu atau memainkan alat musik—maka Dads dapat membantu si Kecil untuk mengenali lebih dalam tentang bakat tersebut. Mendorong Si Kecil untuk Terus Berlatih Seperti yang telah disebutkan, bakat akan semakin membaik kalau terus diasah. Jika didiamkan terus, kemampuan si Kecil terhadap minat yang dia gemari akan jalan di tempat atau malah menghilang. Maka, Dads harus senantiasa menyemangti si Kecil dan mendorongnya untuk melatih talentanya. Tumbuhkan pula optimisme dan rasa percaya diri seandainya si Kecil masih minder dengan minatnya, padahal dia tampak berbakat dan bisa melakukannya lebih baik. Memberikan Kebebasan untuk Memilih Jangan paksakan kehendak Dads kalau keinginan kita tidak sejalur dengan si Kecil. Biarkan dia memilih minat yang memang benar-benar disukai dan bantu dia untuk mendalaminya. Kemauan yang dipaksakan malah akan membuat si Kecil malas dan enggan berinteraksi dengan Dads. Di sisi lain, Dads juga sudah membuang banyak waktu, tenaga, bahkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar si Kecil sukai. Semoga informasi di atas dapat membantu Dads mengembangkan talenta si Kecil dan membuatnya terdorong untuk menjadi yang terbaik.
Read more
Memahami karakteristik si Kecil sejak dini amatlah penting bagi Dads, karena hal ini akan membantu Dads dalam memecahkan masalah yang sedang dia hadapi. Salah satunya saat si Kecil masuk ke lingkungan sekolah yang notabene berbeda jauh dengan rumah. Sebagian anak mungkin tidak akan kesulitan untuk melebur dan bersosialisasi dengan cepat. Namun, bagaimana kalau si Kecil mempunyai sifat yang lebih tertutup dan menyulitkannya dalam bergaul? Dads pasti kecewa, sedih, sekaligus khawatir melihat si Kecil main sukar mendapatkan teman sebaya untuk bermain. Sebagai orangtua dan salah satu orang terdekatnya di rumah, sudah jadi tugas Dads membantu si Kecil untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini. Selain membuat rasa percaya diri si Kecil naik, bantuan ini akan mengeratkan ikatan Dads dengannya. Di bawah ini ada beberapa cara yang dapat Dads ajarkan supaya si Kecil bisa mendapatkan teman. Mengajari Si Kecil Keterampilan Berteman Untuk berteman, ternyata ada keterampilan yang perlu si Kecil pahami. Keterampilan tersebut meliputi belajar jadi pendengar yang baik, mau berbagi, dan saling berganti. Untuk mempermudah si Kecil dalam mempelajari keterampilan ini, Dads dapat mengajarkannya melalui permainan yang dia sukai. Ajaklah teman-teman sebayanya untuk bermain sambil melatih keterampilan tadi. Mengundang Teman Si Kecil ke Rumah Jika tetangga Dads mempunyai anak seumuran si Kecil, tak ada salahnya untuk mengundang mereka main ke rumah. Hal ini dapat menjadi pengenalan awal bagi si Kecil untuk menjalin pertemanan. Dads tak perlu menunggu momen ulang tahun atau syukuran untuk mengundang temannya. Sebagai balasan, Dads bisa mengajak si Kecil main ke rumah temannya tersebut. Memperhatikan Kualitas Alih-alih Kuantitas Jangan menjadikan jumlah menjadikan patokan berteman. Meski hanya sedikit, kalau si Kecil merasa nyaman bermain bersama teman-temannya, maka Dads tidak perlu khawatir. Apalagi kalau teman-teman si Kecil membawa pengaruh yang baik dan positif. Dibandingkan jumlah banyak, tetapi si Kecil malah semakin pendiam dan enggan bermain bersama Dads. Jangan Memaksakan Kehendak untuk Si Kecil Untuk masuk ke lingkungan baru, si Kecil membutuhkan waktu. Maka dari itu, Dads jangan paksa dia bergabung dengan teman-temannya kalau dia belum siap. Hal tersebut malah akan membuat suasana jadi canggung dan si Kecil makin enggan bermain. Dads berhak mendukungnya, tetapi sesuaikan pula dengan mood si Kecil.
Read more
 

Like Our page