Sebagai ibu hamil, pastinya Moms memiliki aktivitas fisik yang kurang dan tak sepadat biasanya. Moms sudah jarang jalan – jalan keluar rumah karena biasanya hanya berkutat di dalam rumah saja. Padahal melakukan aktivitas di luar rumah lebih aktif akan mempermudah persalinan lebih lancar dan cepat. Tak ada salahnya Moms melakukan beberapa tips dibawah ini. Berjongkok Posisi jongkok ternyata dipercaya menjadi posisi alami untuk membantu proses persalinan. Tak ada salahnya Moms berjongkok atau melakukan gerakan jongkok. Sedikit sulit tetapi akan sangat berguna untuk proses persalinan. Dengan berjongkok, maka otot perut dan paha akan lebih kuat. Otot paha dan perut yang jauh lebih kuat pastinya akan membuat persalinan lebih lancar dan cepat karena mampu mendorong bayi dari dalam rahim untuk keluar. Latihan berjongkok selama kehamilan akan membuat elastisitas jalur bersalin dan membuatnya terbuka lebih lebar. Menguasai Teknik Pernapasan yang Tepat Agar Moms bersalin lebih lancar dan cepat, ingat dan kuasailah teknik pernapasan yang tepat. Moms harus mengatur napas dan cara bernapas saat menjalani proses persalinan agar pikiran lebih tenang. Bernapas dengan baik akan mengikat banyak oksigen yang terhirup dan dialirkan pada seluruh sel – sel tubuh, dan otot rahim agar bisa berkontraksi dan mengeluarkan janin lebih kuat. Dengan proses pernapasan yang baik akan membuat pikiran rileks dan membuat otot – otot tubuh mengendur. Sering Berjalan Walaupun aktivitas Moms terbatasi saat hamil, tak ada salahnya untuk tetap bergerak aktif. Salah satunya adalah dengan berjalan. Berjalan membuat proses persalinan akan berjalan lancar. Moms bisa berjalan, duduk tegak, ataupun berdiri sehingga gravitasi bumi bisa menarik kepala janin yang sudah keluar di jalan lahir. Kepala si janin secara tak langsung akan menarik mulut rahim dan membuat proses pembukaan dimulai. Melakukan Pijatan Untuk memperlancar proses persalinan, tak ada salahnya untuk menikmati pijatan. Moms bisa meminta pijatan suami pada area pinggul yang membuat Moms merasa rileks dan nyaman. Pijatan ini dilakukan menjelang proses persalinan agar Moms lebih siap saat melahirkan. Kondisi pikiran dan tubuh yang rileks akan mempengaruhi organ tubuh agar lebih kendur. Menghirup Aromaterapi Agar proses persalinan lebih lancar, tak ada salahnya Moms menghirup aromaterapi. Lavender dapat menjadi pilihan tepat untuk membantu menyamarkan rasa sakit dan membuat Moms lebih rileks dan santai. Minyak terapi lavender mengandung zat yang dapat mengurangi rasa sakit dan mengendurkan otot – otot rahim.
Read more
Kehamilan membawa perubahan besar pada ibu hamil terutama perubahan fisik. Bentuk tubuh yang lebih gemuk dan perut membuncit pastinya membuat Moms kurang percaya diri. Selain itu, terjadi perubahan hormon dan emosional pada Moms yang hamil. Apakah masih ada perubahan lainnya yang terduga? Ternyata kehamilan membawa perubahan otak pada Moms yang sedang hamil. Struktur Otak pada Moms Berubah Cukup Drastis Selama Hamil Ada penelitian yang menyatakan bahwa kehamilan mampu mengubah struktur pada beberapa bagian tertentu di dalam otak pada Moms. Perubahan ini terjadi tak terjadi pada mereka yang belum atau tidak pernah hamil. Bisa dibilang kehamilan berdampak terjadinya perubahan struktur pada otak. Selain itu, kehamilan juga mengurangi cukup signifikan materi abu – abu pada bagian otak yang ada kaitannya dengan kemampuan Moms untuk menempatkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Hal ini pastinya membuat Moms lebih sabar dan memperhatikan kehamilannya dan janin saat hamil. Kondisi ini berjalan dan bertahan selama kurang lebih dua tahun. Perubahan pada otak ini akan membuat Moms menjadikan si kecil sebagai prioritas utama selama hamil. Hal inilah yang secara tak langsung membangun ikatan sangat kuat antara si janin dan Moms selama hamil. Penurunan grey matter pada otak tersebut bukan hal atau pertanda buruk. Hal ini adalah proses yang berguna dan bermanfaat untuk seorang ibu. Kehamilan juga membantu otak Moms lebih istimewa. Kok bisa? Selama proses kehamilan, Moms menjadi lebih peka untuk memahami kebutuhan si kecil dan ancaman sosial dari lingkungan sekitar yang bisa memengaruhi perkembangan si kecil. Perubahan pada otak ini juga akan merangsang terjadinya ikatan emosional yang sangat kuat antara si kecil dan ibu sehingga mereka punya ikatan alami. Perubahan pada otak bagi ibu hamil terjadi memang benar adanya. Wanita hamil menunjukkan perubahan materi abu – abu yang mengalami penurunan, dan adanya penipisan pada bagian cortek yang berkaitan dengan sosial dan koginitifnya. Perubahan – perubahan diatas terjadi secara umum pada Moms yang hamil. Semua wanita hamil pasti mengalaminya dan tak ada perbedaan baik secara medis atau alami tentang hal tersebut. Perubahan otak saat hamil ternyata berpengaruh terhadap daya ingat Moms selama hamil. Banyak ibu hamil yang mengeluh menjadi mudah lupa dan emosional selama kehamilan. Inilah yang terjadi pada perubahan otak Moms. Selain berdampak baik juga memiliki dampak yang kurang baik. Selain perubahan otak, kehamilan juga mempengaruhi perubahan hormonal pada Moms.
Read more
Jika Moms saat ini sedang dalam keadaan hamil maka menghitung usia kehamilan adalah suatu hal yang wajib. Selain itu, menghitung HPL atau yang biasa disebut Hari Perkiraan Lahir juga harus Moms dan Dads perhatikan baik-baik. Hal tersebut bertujuan agar Moms dan Dads mampu mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan demi menyambut datangnya Si Kecil. Cara Menghitung Usia Kehamilan Ketika mulai memasuki awal pertama kehamilan, sudah pasti dokter kandungan Moms telah memberikan tips dan trik tertentu untuk menghitung usia kehamilan. Berikut ini adalah cara-cara yang biasanya digunakan: Siklus Menstruasi Moms dapat menghitung periode haid terakhir untuk mengetahui berapa usia kandungan atau kehamilan. Nah perkiraan untuk perkiraan hari kelahiran Si Kecil sendiri adalah 40 minggu setelah hari pertama Moms mengalami menstruasi. Menggunakan USG Cara ini merupakan cara yang sangat akurat sekali karena Moms akan ditemani oleh seorang dokter ahli kandungan. Dengan pemeriksaan USG sudah dipastikan Moms dan Dads akan mengetahui berapa usia kehamilan tersebut. Dokter juga akan menjelaskan perkembangan Si Kecil di kandungan secara rinci sehingga Moms dan Dads sudah mengetahui tentang HPLnya. Pemeriksaan HCG Human Chrionic Gonadotropin atau HCG juga dapat dilakukan apabila Moms ingin menghitung usia kandungan dan perkiraan hari lahir Si Kecil. Di sini, Moms akan menjalani sebuah tes dengan diambil sampel darah atau urin. Dokter akan meneliti tentang usia kehamilan Moms dari HCG yang ditemukan dalam darah atau urin tersebut. Kalkulator Kehamilan Nah untuk Moms yang tak ingin repot tentang cara-cara menghitung usia kehamilan dan juga hari perkiraan lahir maka Moms dapat menggunakan kalkulator kehamilan. Alat yang satu ini bisa digunakan dengan mudah karena tersedia di internet. Ada banyak situs kehamilan yang menyediakan kalkulator kehamilan yang dapat Moms kunjungi dan salah satunya adalah website Merries. Untuk menggunakan Due Date Calculator, Moms tinggal klik di sini. Dengan begitu, para wanita yang sedang hamil tak perlu khawatir lagi karena mereka bisa menghitung usia kehamilan sekaligus memperkirakan HPL tanpa harus bersusah payah. Walaupun ada banyak sekali cara yang dapat digunakan untuk menghitung usia kehamilan, namun banyak wanita hamil yang lebih mempercayakan segala sesuatunya pada dokter atau bidan. Hal ini memang benar karena Moms akan mendapatkan perkiraan serta penjelasan yang lebih akurat. Apabila Moms dan Dads telah mengetahuinya secara pasti maka akan lebih mudah lagi untuk memperkirakan HPL atau kapan Si Kecil akan lahir. Dengan begitu, Moms dan Dads dapat melakukan persiapan lebih matang seperti menjaga kesehatan janin, pemeriksaan rutin, mempersiapkan persalinan dan sebagainya.  
Read more
Jangan langsung khawatir dulu jika Si Kecil bermain dan terkena udara dingin, Moms. Memang benar kalau tubuh anak-anak masih tergolong lemah dan rentan sekali terhadap berbagai jenis penyakit. Biasanya apabila Si Kecil terserang demam dan flu, para ibu pasti sudah berfikir kalau hujan atau udara dingin yang menjadi penyebabnya. Adanya mitos kalau suhu udara yang dingin adalah penyebab utama seseorang jatuh sakit tidak hanya ada di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. Perlu Moms dan Dads ketahui kalau mitos tersebut tidaklah benar karena udara dingin bukanlah satu-satunya penyebab utama Si Kecil menjadi sakit. Mitos Tersebut Tidaklah Benar Mitos mengenai udara yang dingin menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit seperti batuk dan flu ternyata salah besar. Jika Si Kecil sedang bermain saat suhu udara menjadi dingin dan kemudian mengigil, itu suatu hal yang lumrah. Akan tetapi, Moms jangan langsung panik kalau Si Kecil pasti akan terkena flu dan demam. Berada di ruangan atau tempat yang udaranya dingin tidak akan membuat orang mudah terkena penyakit begitu saja. Thomas Tallman, DO yang merupakan dokter ahli penyakit flu sendiri mengungkapkan kalau udara dingin tidak ada hubungannya sama sekali dengan penyebab sakit flu. Lalu Apakah Penyebab Sebenarnya? Sebuah penelitian pada tahun 1968 mampu membuktikan kalau orang yang berada di ruangan dingin tidak langsung menjadi sakit. Hal tersebut disebabkan karena penyakit seperti flu dan batuk memang murni karena virus dan kuman. Jika Si Kecil langsung sakit ketika terkena udara yang dingin, hal itu disebabkan karena lingkungan sekitarnya yang mengandung virus atau bakteri penyebab sakit yaitu Rhinovirus atau bakteri penyebab flu. Bisa juga ada seseorang yang sedang sakit batuk atau flu sedang berada di tempat yang sama dengan Si Kecil sehingga virusnya menyebar dan menular. Namun, virus dan bakteri penyebab flu memang akan tumbuh dengan baik dan mudah tersebar pada udara bersuhu dingin dan kering. Kemudian ada suatu fakta mencengankan mengenai sebuah penelitian yang membuktikan kalau udara dingin ternyata dapat menurunkan demam. Jadi, Moms dan Dads harus mencari tau terlebih dahulu apakah kondisi lingkungan di sekitar Si Kecil bersih dan bebas dari virus atau tidak. Jangan buru-buru langsung menyalahkan udara dingin penyebab Si Kecil jadi sakit ya Moms. Akan tetapi, Moms harus tetap memakaikan jaket atau baju hangat untuk Si Kecil ketika udara dingin agar tubuhnya tetap hangat dan tidak menggigil.
Read more
Sebal dengan Si Kecil suka menggigit sehingga sampai menyebabkan kulit Moms dan Dads terluka serta meninggalkan bekas gigitan? Jangan kelewat jengkel dulu Moms karena perilaku tersebut sangatlah wajar untuk bayi yang berusia 1 sampai 3 tahun. Apa Penyebab Si Kecil Senang Menggigit? Apakah hal ini normal? Ya, tentu saja karena Si Kecil memang sedang dalam masa pertumbuhan gigi. Jika orang dewasa saja merasakan gatal pada gusi mereka saat gigi geraham akan mulai tumbuh maka Si Kecil juga merasakan hal yang sama. Rasa gatal akan membuatnya gemas dan selalu ingin menggigit-gigit sesuatu untuk meredakan rasa gatal tersebut. Namun, ternyata ada alasan lain juga loh Moms mengapa Si Kecil suka menggigit diantaranya karena gemas, penasaran, merasa jengkel, atau ingin diperhatikan lebih. Cara Mengatasinya Hal pertama yang harus Moms dan Dads lakukan adalah mencari tau terlebih dahulu penyebab kenapa Si Kecil suka menggigit, apakah itu memang karena tumbuh gigi, sedang sebal, atau hanya ingin bereksperimen saja. Berikut ini ada beberapa tips singkat cara mengatasinya. Menggigit karena Tumbuh Gigi Jika memang benar Si Kecil merasa gatal karena gigi-giginya akan segera tumbuh maka cara mengatasinya sangat mudah. Moms dan Dads bisa membelikannya mainan khusus untuk bayi yang sedang tumbuh gigi. Selain itu, Moms bisa memberikan makanan seperti roti, biskuit bayi, wortel rebus, dll. Menggigit karena Merasa Kesal Si Kecil juga bisa merasakan jengkel dan marah ketika apa yang diinginkannya tidak dituruti. Terkadang itu menjadi salah satu alasan mengapa Si Kecil menggigit dan ungkapan frustasi serta kemarahannya. Namun, jangan sesekali Moms dan Dads langsung membentak atau menggunakan kata-kata berintonasi tinggi karena memberikan dampak buruk terhadap psikologisnya. Lebih baik jika Moms berbicara secara halus, mengelus kepala, atau memeluk Si Kecil. Mengigit karena Ingin Bereksperimen Si Kecil yang menggigit karena hanya iseng atau ingin melakukan eksperimen disebabkan karena pada usia tersebut bayi merasa ingin tau akan segala hal. Untuk itu, Moms dan Dads bisa memberikan berbagai macam mainan yang aman dan berbahan lunak agar bisa dijadikan sarana Si Kecil bereksperimen. Apabila kebiasaan menggigit tersebut tidak juga berkurang atau bahkan sulit untuk dihilangkan, maka sebaiknya Moms dan Dads segera berkonsultasi dengan dokter anak. Hal tersebut adalah cara yang paling tepat jika para orang tua sudah sangat frustrasi dengan kebiasaan Si Kecil suka menggigit.
Read more
Ada kalanya Moms dibuat pusing oleh ulah Si Kecil yang selalu rewel, tidak bisa diatur dan emosional. Bila hal ini terjadi, biasanya apakah yang Moms lakukan? Banyak orang yang mungkin menyalahkan Si Kecil dan menyebutnya dengan sebutan nakal. Tapi, Moms jangan melakukan hal yang sama. Jangan langsung menyalahkan Si Kecil bila mereka bertindak seperti itu. Bisa jadi, Si Kecil bertindak nakal karena ada kebiasaan Moms yang membuatnya seperti itu. Dan, ini dia 5 kebiasaan Moms yang membuat Si Kecil jadi cranky. Menuruti Semua Kemauan Si Kecil Ada kalanya bila Si Kecil merengek dan meminta sesuatu pada Moms, maka Moms langsung menurutinya. Alasannya, Moms sedang sibuk dan tidak ingin diganggu terus oleh rengekan Si Kecil. Dengan menuruti rengekan tersebut, Moms berharap Si Kecil dapat berhenti rewel. Sayangnya, keputusan Moms melakukan ini ternyata berdampak negatif. Hal ini seperti mengajarkan Si Kecil bahwa merengek adalah cara untuk meminta sesuatu. Alhasil, hal ini akan menjadi kebiasaan Si Kecil. Tidak Ada Rutinitas Si Kecil yang tidak terbiasa merasakan adanya jadwal kegiatan yang rutin dilakukan setiap harinya akan merasa tidak ada tanggung jawab. Si Kecil tidak akan bisa berkonsentrasi lebih baik. Hal inilah yang membuat Si Kecil menjadi sering merengek dan rewel. Moms Jarang Menemani Si Kecil Bila Moms tidak pernah atau jarang menemani Si Kecil, maka hubungan Si Kecil dengan Moms tidak akan terlalu dekat. Hal ini akan membuat Si Kecil hanya menganggap Moms sebagai orang dimana dia meminta sesuatu. Ditambah lagi, hubungan yang tidak dekat ini juga membuat Si Kecil sulit untuk diberitahu oleh Moms. Jadi, luangkan waktu meskipun sedikit, ditengah kesibukan Moms bekerja. Terburu-Buru Ada kalanya, Moms menyuruh Si Kecil untuk cepat melakukan sesuatu atau menyelesaikan hal yang dia lakukan. Misalnya, Si Kecil harus cepat memakai baju, cepat mandi dan lain sebagainya. Hal ini akan menambah tekanan pada Si Kecil. Ada satu titik dimana Si Kecil akan memberontak dan menjadi rewel. Tidak Disiplin Moms tidak disiplin menjalankan aturan yang Moms buat sendiri untuk Si Kecil dan Moms. Si Kecil dapat mengingat hal ini dan melakukan hal yang sama. Jadi, beri contoh yang baik dengan menjalankan aturan yang Moms buat dengan baik dan konsisten.
Read more
Autisme adalah kondisi mental yang membuat Si Kecil sulit atau mengalami gangguan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sebenarnya, gangguan ini dapat diatasi bila Moms dapat mendeteksinya sejak dini. Dengan memberikan terapi dan perawatan sedini mungkin, peluang sembuh Si Kecil dari autisme dapat menjadi lebih besar. Untuk mendetaksi gejala autisme sejak dini, Moms dapat melihat beberapa hal berikut ini. Beberapa tanda berikut adalah gejala umum yang ditunjukkan saat Si Kecil mengalami autisme. Yang perlu diingat, setiap individu mempunyai gejala yang berbeda. Tapi, dengan gejala umum ini, Moms sudah bisa mengetahui adanya autisme pada diri Si Kecil atau tidak. Ekspresi Si Kecil akan sulit membuat ekspresi sesuai dengan perasaannya. Misalnya, saat Si Kecil berusia 6 bulan hingga 9 bulan, Si Kecil sudah bisa menunjukkan ekspresi gembira atau tersenyum. Bila hingga usia ini Si Kecil tidak mampu menunjukkan ekspresi tersebut, atau ekspresi lain, bahkan suara, ada kemungkinan bila Si Kecil mengalami autisme. Kemampuan Berbicara Bila Si Kecil terlambat untuk mampu berbicara lancar, maka bisa dikatakan hal tersebut adalah salah satu tanda autisme. Memang, terlambat untuk dapat berbicara bukanlah tanda kuat adanya autisme. Tetapi, pada umumnya, Si Kecil sudah mampu mengeluarkan kata-kata saat berusia 12 bulan. Jika hingga usia ini, Si Kecil tidak mampu melakukannya, Moms harus waspada. Respon Gerakan Mulai usia 12 bulan, fungsi motorik Si Kecil seharusnya berkembang dengan pesat. Karena itu, Si Kecil akan aktif bergerak dan mengekspresikan apa yang dia pikirkan dengan gerakannya. Misalnya, Si Kecil dapat menunjuk sesuatu, melambaikan tangan dan sebagainya. Bila Moms tidak melihat hal ini dilakukan oleh Si Kecil, maka Moms perlu waspada. Bisa jadi ini merupakan gejala awal dari autisme. Perilaku Sosial Si Kecil Ingat, meski masih usia dini, kemampuan bersosialisasi Si Kecil akan mulai terbentuk. Artinya, Si Kecil, dalam keadaan normal, akan mampu mengerti bila seseorang mengajaknya berbicara. Respon yang diberikan biasanya memandang wajah lawan bicara dan memperhatikan apa yang lawan bicara bicarakan. Bila Si Kecil menghindari kontak mata atau terlalu terpaku pada satu hal, maka ini juga dapat menjadi tanda adanya autisme. Meskipun begitu, untuk memastikan, sebaiknya Moms membawa Si Kecil ke dokter, setelah menemukan salah satu atau semua gejala diatas. Dokter akan dapat membantu Moms untuk mendiagnosis lebih jauh kondisi Si Kecil. Dan, bila memang ditemukan autisme, maka bisa segera dilakukan perawatan.
Read more
Sepatu adalah alas kaki yang cukup penting yang perlu Moms perhatikan, saat akan membelikannya untuk Si Kecil. Moms tidak hanya perlu memperhatikan bentuk dan tampilannya yang harus menarik dan lucu saat dikenakan Si Kecil. Desain dan kenyamanan sepatu juga harus diperhatikan, karena hal ini ternyata berpengaruh pada kemampuan Si Kecil dalam berjalan. Jadi, bisa dikatakan, keberhasilan Si Kecil saat belajar berjalan juga dipengaruhi oleh sepatu yang Moms pilih. Untuk memilih sepatu yang tepat agar Si Kecil dapat lancar belajar berjalan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Ukuran Sepatu Saat membeli sepatu, jangan menebak ukuran sepatu yang tepat untuk Si Kecil. Akan lebih baik, bila Moms mengajak Si Kecil dan langsung dicoba ke kaki Si Kecil. Dengan cara ini, maka Moms akan dapat memilih ukuran sepatu yang tepat dan sesuai dengan kakinya. Ukuran yang cocok akan membuat Si Kecil lebih nyaman dalam berjalan. Dan, ini akan sangat membantu saat Si Kecil belajar berjalan. Untuk memilih ukuran yang tepat, perhatikan bagian jari. Pastikan jari Si Kecil tidak menekuk ke bawah. Minimal harus ada jarak sekitar 1 cm hingga 2 cm antara ujung kaki Si Kecil dengan ujung bagian dalam sepatu. Bagian Tumit Bagian tumit sepatu juga harus pas. Jangan membeli sepatu dimana bagian tumit terlalu lebar. Hal ini akan dapat membuat Si Kecil tersandung saat berjalan. Dan dapat berbahaya, saat Si Kecil masih baru belajar berjalan, dimana keseimbangan dan cara berjalannya belum stabil. Lalu, memilih sepatu dengan tumit yang terlalu menempel juga tidak baik. Hal ini dapat membuat kaki Si Kecil lecet. Meski Moms mengenakan kaus kaki pada kaki Si Kecil, resiko ini tetap saja ada. Bentuk atau Desain Sepatu Bentuk sepatu yang runcing atau high heels memang terlihat lucu saat dikenakan oleh Si Kecil. Namun, perlu diketahui, bentuk yang terlalu berlebihan seperti ini dapat menyebabkan Si Kecil tersandung dan terjatuh. Hal ini sangat berbahaya saat Si Kecil baru belajar berjalan. Ditambah lagi, desain seperti ini akan memperburuk keseimbangan Si Kecil yang seharusnya terlatih saat belajar berjalan. Bahan dan Bagian Bawah Sepatu Pilih sepatu yang terbuat dari bahan kanvas atau kain yang mempunyai sirkulasi udara yang lancar. Hindari sepatu dari karet atau plastik. Lalu, untuk bagian bawah sepatu, Moms perlu memilih alas dengan alur kasar tapi tidak terlalu dalam. Hal ini dapat membantu Si Kecil agar tidak terpeleset.
Read more
Tergiur dengan banyaknya mainan berharga murah yang di jual di toko atau pasar? Tak hanya Si Kecil yang gemas ketika melihat banyak mainan, para orang tuapun biasanya juga gemas dan ingin membeli banyak mainan untuk anak mereka. Terlebih lagi jika harga mainan tersebut sangatlah murah. Moms dan Dads pasti akan sangat menyayangkan sekali jika sampai tidak membelinya bukan? Akan tetapi, tidak semua mainan murah itu aman loh Moms! Ada baiknya jika Moms dan Dads di rumah jangan asal membelikan Si Kecil mainan karena tergiur akan harganya yang sangat murah. Apa Bahayanya Mainan Murah? Mungkin jika dilihat mainan-mainan yang kebanyakan terbuat dari bahan plastik tidaklah berbahaya dan aman untuk Si Kecil. Ternyata hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar Moms. Pada mainan yang murah, produsen biasanya juga memakai bahan-bahan yang kualitasnya rendah dan bahkan sangat berbahaya. Ada banyak produsen mainan anak yang menambahkan berbagai zat kimia berbahaya sebagai bahan untuk membuat mainan anak seperti arsenik, timbal, timah, kadmium, dan merkuri. Zat-zat tersebut memiliki dampak yang sangat berbahaya sekali bagi kesehatan tubuh manusia. Jika mainan yang mengandung berbagai macam zat berbahaya tersebut dipegang Si Kecil, maka akan memberikan dampak buruk bagi kesehatannya. Apalagi jika Si Kecil masih senang menggigit-gigit dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Bagaimana Ciri-ciri Mainan Anak yang Tidak Berbahaya? Sebagian besar mainan anak-anak memang terbuat dari plastik, namun apakah semua mainan anak berbahaya? Lalu mainan yang seperti apa yang tidak mengandung zat-zat berbahaya? Tak Mudah Terbakar Salah satu ciri mainan yang aman yaitu tidak mudah terbakar karena mainan murah dan mengandung zat berbahaya tentu saja akan langsung bereaksi jika terkena panas api. Tidak Berbau Tajam Jika Moms dan Dads pernah membeli mainan yang memiliki bau cat sangat tajam dan menusuk hidung, sebaiknya segera buang saja. Bau yang tajam adalah ciri-ciri jika mainan tersebut mengandung zat kimia yang berbahaya. Jika bau tersebut sampai dihirup oleh Si Kecil maka kemungkinan akan menimbulkan gejala pusing, mual, atau sesak napas. Memiliki Label serta Instruksi yang Jelas Mainan anak yang berkualitas bagus dan aman tentu saja memiliki label merk dengan instruksi yang sangat jelas. Moms bisa membedakan antara mainan murah dan yang mahal dimana mainan dengan kualitas bagus pasti memiliki informasi tertulis mengenai bahan serta material pembuatan dan bagaimana cara menggunakannya. Bagaimana Moms dan Dads, masih tergiur membelikan Si Kecil berbagai macam mainan yang harganya murah? Meskipun bagus dan memiliki beraneka bentuk yang lucu, namun mulai sekarang para orang tua harus lebih waspada dan berhenti membeli mainan murah.
Read more
“Dik, jangan lupa menggosok gigi sebelum tidur, ya.” Mungkin, Moms sering memerintahkan Si Kecil untuk melakukan ini. Atau, saat pagi hari, Moms juga mengingatkan Si Kecil untuk menggosok giginya. Namun, disini ada pertanyaan menarik. Sebenarnya, berapa kali, Si Kecil harus menggosok gigi tiap harinya? Menurut penelitian dari University College London, setidaknya, Si Kecil harus menggosok gigi sebanyak dua kali dalam sehari, yaitu pada pagi hari dan sore hari. Jadi, bila biasanya, Si Kecil hanya menggosok gigi pada pagi hari saat mandi saja, maka hal itu tidak cukup. Bahkan, bisa dikatakan, menggosok gigi pada waktu mandi tidaklah tepat. Seharusnya, Si Kecil wajib menggosok gigi setelah makan. Namun, yang perlu Moms perhatikan, jangan langsung menyuruh Si Kecil menggosok gigi setelah makan begitu saja. Saat Si Kecil makan, maka mulut mereka akan memproduksi air liur dan bakteri baik yang mengandung asam untuk membuat makanan yang dimakan menjadi lebih mudah dicerna. Dan, saat setelah makan ini, kandungan asam dalam mulut Si Kecil terbilang cukup tinggi. Saat Si Kecil menggosok giginya tepat setelah makan, maka hal ini akan membuat asam semakin terserap ke dalam gigi. Alhasil, asam yang mempunyai sifat korosif, akan membuat lapisan email gigi menjadi lebih tipis dan rentan. Dan, Si Kecil akan beresiko mempunyai gigi berlubang. Sebaiknya, berikan waktu sekitar 2 jam setelah makan, sebelum Si Kecil menggosok giginya. Dengan demikian, maka gigi Si Kecil akan lebih aman. Hal lain yang juga penting untuk diketahui adalah cara menggosok gigi. Pasti Si Kecil sudah diajari di sekolah atau oleh Moms sendiri, untuk menggosok gigi dengan gerakan ke atas dan kebawah. Selain itu, Moms juga harus memperhatikan tekanan yang digunakan untuk menggosok gigi. Ajarkan pada Si Kecil untuk tidak menekan secara kuat saat menggosok gigi. Hal ini mempunyai hubungan dengan kandungan asam dalam mulut Si Kecil. Menekan terlalu kuat akan dapat membuat asam ini lebih meresap ke dalam gigi, dan hasilnya sudah dijabarkan diatas. Lakukan secara ringan dan lama. Biasanya, lama waktu menggosok gigi yang tepat adalah sekitar 2 menit. Dan dilakukan secara menyeluruh, pada semua bagian gigi. Jadi, pastikan Moms menyuruh Si Kecil menggosok gigi dalam jumlah yang sesuai per harinya. Ditambah lagi, cara menggosok gigi yang benar juga perlu dilakukan.
Read more
Apakah yang Moms biasa lakukan, setelah Si Kecil berhasil melakukan satu hal yang baik? Tentu saja memujinya, bukan? Memang, hal ini tidaklah salah, dan pujian tersebut berperan sebagai penghargaan untuk Si Kecil. Namun, ada kalanya bila Moms terlalu banyak memuji, hal ini tidak baik untuk Si Kecil. Ini artinya, Moms terlalu memanjakan Si Kecil. Selain memberikan pujian yang terlalu banyak, ada tanda-tanda lain, yang menggambarkan bila Moms terlalu memanjakan Si Kecil. Berikut beberapa diantaranya. Sering Memberikan Hadiah Memberikan hadiah yang dimaksud disini adalah memberikan hadiah yang tidak sesuai. Misalnya, Moms memberikan tablet dengan harga premium untuk Si Kecil. Tentu saja ini tidak sesuai dengan usia dan kebutuhan Si Kecil. Alhasil, Si Kecil tidak mampu belajar mengenai konsep kepemilikan dan tanggung jawab. Hal ini tentu tidak baik untuk perkembangan mental Si Kecil. Meremehkan Kemampuan Si Kecil Sayangnya, hal ini banyak dilakukan orang tua di Indonesia, dan mungkin Moms juga. Moms merasa Si Kecil belum bisa melakukan satu hal dan menggantikannya melakukan hal tersebut. Hal ini akan membuat Si Kecil terlalu bergantung pada Moms dan tidak bisa mandiri. Membantu Tanpa Diminta Saat Si Kecil sedang melakukan sesuatu dan mendapatkan masalah, Moms langsung datang sebagai penyelamat. Moms membantu Si Kecil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Padahal, hal ini dapat mengurangi kreativitas dan kemampuan Si Kecil dalam menelaah kondisi di sekitarnya dengan logikanya. Jadi, sebaiknya, Moms melihat dulu masalah yang dihadapi Si Kecil, dan biarkan dia mencoba menyelesaikannya. Hal ini sebenarnya sama dengan poin ke-2, Moms meremehkan kemampuan Si Kecil dalam menyelesaikan masalah tersebut. Membiarkan Anak Selalu Mengandalkan Orang Tua Memang, Moms sebagai orang tua wajib membimbing dan membantu Si Kecil dalam melalui hidupnya. Namun, jangan melakukan secara terus menerus. Latih Si Kecil sejak dini untuk mampu mengandalkan dirinya sendiri. Bila Moms terus membuat Si Kecil bergantung pada Moms dan Dads, maka saat besar nanti, Si Kecil tidak akan bisa mandiri. Si Kecil juga akan mempunyai masalah dalam bersosialisasi, karena tidak terbiasa dengan orang asing, selain Moms dan Dads. Memang, seperti sudah menjadi kenikmatan sendiri membuat Si Kecil senang dan melihatnya tersenyum, dengan cara memanjakan seperti ini. Namun, ingat, Si Kecil tidak selamanya kecil. Mereka akan tumbuh besar menjadi manusia dewasa yang akan berguna di masyarakat. Jadi, sudah kewajiban Moms dan juga Dads, mempersiapkannya sejak dini.
Read more
Biasanya, saat Si Kecil badannya panas atau demam, apa yang Moms pikirkan? Sebagian besar orang mungkin berpikir bila Si Kecil terkenal flu. Namun, tidak hanya itu saja, Moms. Gejala demam seperti ini ternyata juga dapat menjadi gejala banyak jenis penyakit, bahkan beberapa diantaranya cukup berbahaya. Bila Moms menganggap remeh badan panas dan demam seperti ini, maka Moms jelas melakukan kesalahan disini. Hal ini bisa berakibat fatal bagi Si Kecil. Berikut ini beberapa jenis penyakit yang diawali dengan demam yang perlu Moms perhatikan. Demam Berdarah Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus ini termasuk cukup berbahaya. Biasanya, demam datang secara tiba-tiba dan suhu badan Si Kecil bisa mencapai 40 derajat Celsius. Dan, meskipun Moms memberikan obat penurun panas, demam tidak kunjung hilang. Lalu, pada hari ke-4 hingga ke-7 sejak demam menyerang, demam hilang, namun kondisi Si Kecil sudah sangat lemah, karena jumlah Trombosit yang berkurang banyak. Bila Moms menemukan gejala ini, segera bawa Si Kecil ke dokter. Tifoid Mungkin Moms lebih mengenalnya dengan sebutan Tifus. Demam pada penyakit ini datang secara perlahan. Biasanya, demam muncul pada malam hari, dengan suhu badan mencapai 36 hingga 37 derajat Celsius yang cukup normal. Lalu, semakin hari suhu semakin meningkat bahkan di hari ke-7 suhu badan bisa mencapai 40 derajat Celsius. Flu Singapura Penyakit ini juga dikenal dengan sebutan Hand Food Mouth Diseases (HFMD). Meskipun penyakit ini banyak menyerang Si Kecil yang masih berusia 2 hingga 5 minggu, Si Kecil usia balita juga dapat terkena, saat kondisinya sedang turun. Gejala demam yang datang biasanya tidak terlalu parah dan berlangsung selama 2 hingga 3 hari. Namun, muncul  vesikel atau bagian kulit tubuh yang melepuh kemerahan. Moms perlu membawa Si Kecil ke dokter, bila ada gejala demam dan Si Kecil merasakan sakit pada leher, tangan dan kaki. Tuberkolosis Pada orang dewasa gejala Tuberkolosis (TB) sangat jelas terlihat, misalnya batuk terus selama 3 minggu. Namun, untuk Si Kecil, gejalanya tidak jelas. Demam yang tidak terlalu tinggi menjadi awalnya dan berlangsung hingga lebih dari 7 hari. Jadi, bila Moms melihat hal ini, segera bawa ke dokter. Cacar Air Demam juga bisa menjadi awal dari penyakit cacar air. Biasanya, penyakit ini bisa sembuh sendiri bila Si Kecil mempunyai daya tahan yang bagus. Namun, untuk lebih amannya, bawa Si Kecil ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.
Read more
 

Like Our page