Kehamilan pertama dapat dikatakan sebagai salah satu momen paling spesial dalam hidup Dads dan Moms. Artinya, sebentar lagi, Dads dan Moms akan dikaruniai Si Kecil, buah hati dambaan Moms dan Dads. Sayangnya, banyak kesalahan yang dilakukan para Dads sekalian, saat Moms hamil yang pertama kali. Tentunya, kesalahan-kesalahan ini akan berdampak pada Moms, khususnya pada perasaan mereka, yang seringkali merasa tertekan karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan Dads ini. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, sebaiknya Dads mengetahui, apa saja kesalahan-kesalahan umum yang sering Dads lakukan saat Moms hamil pertama kali. Tidak Perhatian Mungkin tidak dapat dikatakan tidak perhatian, tetapi Dads kurang memberikan perhatian lebih pada Moms. Perhatian Dads masih sama levelnya pada saat sebelum Moms hamil. Padahal, pada saat Moms hamil, khususnya yang pertama, Moms akan merasakan beban yang cukup berat. Disinilah dibutuhkan perhatian lebih dan dukungan dari Dads, agar Moms dapat kuat menjalani kehamilannya. Misalnya, Dads dapat memijat kaki Moms yang capek setelah beraktivitas seharian. Atau, menanyakan kondisinya dan mengajak berbicara mengenai Si Kecil. Perhatian-perhatian kecil seperti ini saja sudah dapat membuat Moms bahagia dan lebih kuat. Dan tentunya, Dads juga harus tanggap dalam memberikan perhatian lainnya untuk hal yang lebih serius. Kurang Informasi Mungkin Dads beranggapan bahwa yang hamil adalah Moms, jadi Dads tidak perlu untuk mencari informasi mengenai kehamilan. Karena kehamilan ini merupakan kehamilan yang pertama, maka informasi dan pengalaman yang dimiliki oleh Moms juga tidak banyak atau bahkan tidak ada. Disinilah dibutuhkan kerjasama antara Moms dan Dads untuk mencari informasi untuk menghadapi kehamilan ini. Bila Dads juga mengetahui informasi lebih banyak, maka kehamilan dapat dilalui dengan lancar dan meminimalisasi terjadinya masalah. Kurang Menjaga Kesehatan Kesehatan Dads juga perlu dijaga, agar selama Moms hamil, Dads tidak merepotkan Moms yang harus merawat Dads yang sedang sakit. Bila tubuh Dads selalu dalam kondisi sehat dan fit, maka hal ini juga baik untuk kehamilan pertama Moms. Dads dapat terus menjadi suami siaga dan memberikan bantuan pada Moms kapanpun dibutuhkan. Jadi, Dads mungkin harus lebih rajin berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat. Akan sangat menguntungkan juga, bila Dads dan Moms dapat melakukan gaya hidup sehat bersama saat Moms hamil. Akan ada banyak manfaat yang didapat dari cara ini.
Read more
Ketika hendak melahirkan, Dads memiliki peranan yang sangat penting dan membantu Moms supaya lebih rileks ketika menghadapi persalinan. Kehamilan dan persalinan adalah hal yang tidak dapat dilupakan oleh para Moms. Momen tersebut bahkan dapat menjadi momen yang berharga dalam hidup Moms dan Dads. Lanats bagaimana sikap Dads seharusnya ketika Moms sedang menjalani proses persalinan? Peran Dads sebagai suami tidak cukup hanya dengan membawakan kebutuhan seperti pakaian dan perlengkapan yang akan digunakan selama berada di rumah sakit. Kehadiran Dads selama proses persalinan juga menjadi satu hal penting yang dapat dilakukan. Dengan memberikan semangat untuk Moms, setidaknya Dad dapat mengurangi rasa cemas dan kekhawatirannya. Berikut ini adalah beberapa peran seorang Dads selama proses persalinan. Fokus Pada Kebutuhannya Seorang Moms pada saat melahirkan biasanya membutuhkan dukungan mental dan fisik. Tetaplah berada di sampingnya selama proses persalinan karena dengan demikian Moms akan mendapatkan tempat untuk sharing apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Tetapi yang terpenting dan harus dilakukan oleh Dads adalah tetap fokus dengan berbagai kebutuhan lainnya supaya proses melahirkan dapat berjalan lancar. Bagi Dads, genggaman tangan jauh lebih penting dibandingkan sentuhan. Tetap Di Samping Moms Mungkin Dads sudah mengetahui betapa penting kehadirannya di dekat Moms yang sedang dalam proses melahirkan. Dukungan dari Dads dapat menambah semangat Moms. Proses persalinan mungkin dapat memakan waktu yang cukup lama. Meskipun demikian, usahakan supaya Dads tetap selalu berada di dekat Moms selama proses tersebut. Berikan Sentuhan untuk Moms Kadang-kadang, kontak fisik memberikan efek menenangkan. Memijat akan membantu menenangkan Moms yang sedang cemas dan khawatir. Dads juga dapat memijat punggung Moms karena kebanyakan ibu hamil biasanya mengalami nyeri di bagian punggung. Berjalan-jalan Sebelum berlangsungnya proses persalinan, Dads dapat mengajak Moms berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Hal ini akan membantu melancarkan proses persalinan. Jika tidak, Dads juga dapat memberikan perhatian lebih untuk Moms misalnya membantunya mengubah posisi tidur. Menyeka Keringat Moms Proses melahirkan memang agak menegangkan. Hal ini seringkali membuat Moms banyak mengeluarkan keringat  entah itu karena banyaknya tenaga yang dikeluarkan maupun karena tegang. Untuk menunjukkan perhatian yang besar kepada Moms, Dads dapat menyeka keringatnya dengan sapu tangan atau handuk bersih. Berusaha Menenangkan Meskipun Dads sebenarnya juga merasa khawatir saat proses persalinan, tetapi Dads juga harus mencoba menenangkan Moms. Jangan sampai Anda menunjukkan rasa khawatir tersebut di depan Moms karena hal ini hanya akan menambah kekhawatiran dan kecemasannya.
Read more
Bagi Moms yang sudah pernah hamil pastinya sudah hafal yang namanya kram perut. Kram perut ini bisa terjadi beberapa kali selama kehamilan sehingga Moms harus sedikit waspada. Memang kram perut ini tidak berbahaya bagi janin ataupun Moms. Tetapi, seringkali kram perut di masa kehamilan mengganggu aktivitas Moms. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kram perut saat hamil. Meningkatkan Mobilitas Tubuh Sebenarnya ada beberapa jenis kram perut yang sering dirasakan oleh Moms hamil. Kram perut normal jauh lebih mudah untuk diatasi dengan cara meningkatkan mobilitas tubuh Moms. Selain itu, Moms bisa melakukan beberapa latihan dengan intensitas ringan dan rendah selama beberapa menit saja agar kram perut bisa hilang dengan sendirinya. Moms bisa melakukan konsultasi dengan dokter kandungan tentang jenis latihan untuk menghilangkan kram perut normal di masa kehamilan. Mengkompres dengan Air Hangat pada Bagian Perut Yang Sakit Untuk meredakan dan mengurangi kram perut saat kehamilan, Moms bisa melakukan cara sederhana yaitu mengkompres air hangat pada bagian perut yang sakit. Cara ini bisa sedikit mengurangi rasa sakit akibat kram dan nyeri perut. Perhatikanlah air yang dipergunakan jangan terlalu panas agar tidak membuat Moms kepanasan. Merilekskan Diri Kram perut yang diakibatkan kontraksi true labor memang berbeda dengan kram perut normal. Moms perlu ekstra keras untuk mengatasinya karena rasa sakit tak akan berhenti walaupun Moms sudah bergerak dan mengubah arah tubuh dengan berbagai posisi. Moms bisa melakukan langkah sederhana dengan merilekskan diri dan beristirahat sambil mempersiapkan diri untuk bersalin. Moms juga dianjurkan untuk menarik nafas dalam-dalam agar lebih santai dan rileks. Kram perut ini memang membutuhkan istirahat lebih seperti juga jenis-jenis kram perut lainnya. Jagalah Asupan Gizi Yang Seimbang Terkadang ada beberapa kram perut selama masa kehamilan dikarenakan asupan gizi yang kurang seimbang. Untuk mengatasinya, Moms bisa mengatasinya dengan banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan bernutrisi dan bergizi seimbang. Moms bisa memilih makanan yang banyak mengandung gizi dan nutrisi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Memperhatikan konsumsi air putih juga bisa membantu menghindari kram perut. Makanan bergizi juga bermanfaat untuk memperlancar sistem pencernaan yang buruk akibat kurangnya asupan makanan sehat dan bergizi yang mencakup kandungan vitamin dan mineral. Jika Moms kurang tahu jenis makanan lainnya yang baik untuk mencegah kram perut, Moms bisa menanyakan pada dokter kandungan.
Read more
Saat Si Kecil hadir diantara Moms dan Dads, maka dapat dikatakan hal tersebut adalah hal paling membahagiakan yang Dads dan Moms rasakan. Tetapi, ada kalanya, Dads merasa enggan untuk mencoba menggendong Si Kecil. Ada banyak alasan mengapa para Dads merasa demikian, mulai dari ketakutan bila Si Kecil terjatuh, terkilir dan sebagainya. Ketakutan tersebut hanya muncul, bila Dads tidak mengerti bagaimana cara menggendong Si Kecil dengan benar. Jadi, berikut beberapa petunjuk untuk menggendong Si Kecil khusus untuk Dads, agar Dads dapat merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang Dads sejati. Usia 0 hingga 3 bulan Untuk Si Kecil yang berusia 0 sampai 3 bulan, Dads dapat melakukannya dari posisi Si Kecil terlentang diatas tempat tidurnya. Cara yang dapat dilakukan adalah: Selipkan tangan Dads pada bagian leher Si Kecil untuk menyangga kepalanya Tangan lainnya letakkan pada bagian belakang tubuh Si Kecil dan secara perlahan angkat dan arahkan kepala, leher dan punggung Si Kecil di lipatan siku tangan yang pertama. Pastikan posisi Si Kecil dekat dengan dada Dads, agar Si Kecil merasa nyaman. Usia 3 hingga 6 bulan Dads dapat mengendong Si Kecil dengan posisi duduk menghadap ke depan. Dads dapat menggunakan kain gendongan atau meletakkan Si Kecil duduk di lengan Dads dengan menghadap ke depan. Cara awalnya sama dengan pada usia 0 hingga 3 bulan, tetapi lalu perlahan ubah arah tubuh Si Kecil menghadap ke depan pada posisi duduk. Usia lebih dari 6 bulan Pada usia ini, tulang dan otot Si Kecil sudah terbentuk dan cukup kuat. Artinya, Dads dapat menggendongnya dalam berbagai posisi. Posisi paling nyaman yaitu dengan menggunakan alat gendong yang dikenakan di bagian depan tubuh Dads, dan menggendong Si Kecil dalam posisi duduk. Atau, bila tidak ada alat gendong ini, Dads dapat menggunakan kedua tangan untuk menopang bagian bokong dan pinggang Si Kecil. Usia lebih dari 8 bulan Pada usia ini, sebenarnya, Si Kecil jangan terlalu banyak digendong. Biarkan Si Kecil bereksplorasi dan bermain. Pada usia ini, Si Kecil sudah dapat berjalan, merangkak dan melakukan banyak kegiatan. Yang perlu diingat ada tiga bagian tubuh yang perlu Dads perhatikan saat menggendong Si Kecil, yaitu leher, punggung dan kaki. Pastikan, Dads menyanggah tiga bagian tubuh Si Kecil ini dengan benar, untuk keselamatan Si Kecil itu sendiri atau agar Si Kecil tidak terjatuh.
Read more
Si Kecil yang baru lahir mungkin menjadi salah satu hal terindah yang pernah Moms alami dalam hidup. Tetapi, Moms juga harus waspada, karena Si Kecil yang masih rapuh dan sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang dengan baik ini, rawan terserang berbagai penyakit. Berikut beberapa diantaranya yang harus Moms waspadai. Penyakit Kuning Mungkin Moms sudah sering mendengar nama penyakit ini. Penyakit ini disebabkan oleh jumlah bilirubin yang berlebihan dalam tubuh Si Kecil. Sel darah merah memproduksi zat ini secara alami dan Moms pun memilikinya. Akan tetapi, karena sistem kekebalan tubuh Si Kecil belum terbentuk sempurna, maka kemampuan tubuh mereka memproses zat ini lebih lambat, dan menyebabkan penyakit ini. Untuk mengobati penyakit ini, Moms sebenarnya tidak perlu melakukan apa-apa. Sistem kekebalan Si Kecil perlahan akan semakin kuat dan membuat kadar bilirubin kembali ke level normal dalam beberapa hari. Tetapi, bila hal tersebut tidak terjadi, dokter mungkin menyarankan untuk memberikan perawatan tambahan, yaitu fototerapi, selama satu hingga dua hari. Yang penting, Moms harus mengkonsultasikan hal ini pada dokter. Sariawan Penyakit ini juga sering mengancam. Mungkin terlihat remeh, tetapi, bila dibiarkan, tentunya membuat Si Kecil menderita. Solusinya, Moms hanya perlu membawa Si Kecil ke dokter, dan biasanya akan diberikan resep untuk obat anti jamur oral. Detak Jantung Tidak Normal Salah satu penyakit atau mungkin lebih tepat disebut sebagai kelainan yang normal dialami Si Kecil yang baru lahir. Penyakit ini biasanya disebut dengan nama heart murmur. Penyakit ini muncul karena adanya kelainan pada proses darah saat melewati ruang-ruang dalam jantung. Biasanya, dokter akan melakukan tes dengan mendengarkan detak jantung Si Kecil. Heart murmur biasanya dapat sembuh secara sendiri. Namun, dokter juga akan menyarankan Moms untuk pergi ke spesial jantung tertentu untuk mengetahui lebih lanjut kondisi dari Si Kecil sebenarnya. Saluran Air Mata Tersumbat Mungkin bila Moms perhatikan Si Kecil yang baru lahir, Moms menemukan bila saat menangis, Si Kecil tidak mengeluarkan air mata. Hal ini dapat terjadi karena ada penyumbatan kelenjar air mata. Namun, Moms tidak perlu khawatir, karena kondisi ini tidak berbahaya. Penyumbatan terjadi karena adanya cairan yang kental pada ujung mata. Biasanya, cairan ini akan hilang dalam 2 minggu. Dokter biasanya akan meminta Moms untuk memijat lembt bagian sudut mata Si Kecil untuk mempermudah cairan ini agar hilang.
Read more
Botol susu merupakan salah satu perlengkapan untuk Si Kecil yang cukup penting, karena dengan alat inilah, Si Kecil dapat menikmati susu, yang menjadi makanan utama mereka. Karena hal ini pula, Moms juga harus menjaga kebersihan botol susu dan dot Si Kecil dengan benar. Melakukan proses sterilisasi adalah salah satu caranya untuk mencegah berkembangnya bakteri yang dapat menjadi penyebab penyakit Si Kecil, mulai dari sariawan hingga diare. Bila Moms sekalian sudah sering melakukannya, pertanyaan pentingnya saat ini adalah apakah Moms sudah melakukannya dengan benar? Bila tidak dilakukan dengan benar dan bakteri serta kotoran masih tertinggal, Si Kecil tentu akan mendapatkan masalah kesehatan. Mungkin Moms sekalian memang sering melakukan sterilisasi untuk dot Si Kecil. Tetapi, seringkali melupakan satu langkah penting yang harus dilakukan sebelum melakukan langkah sterilisasi, yaitu mencucinya. Sebelum disterilisasi, dot dan botol susu Si Kecil wajib di cuci bersih hingga tidak tersisa bekas susu maupun kotoran didalamnya. Moms dapat menggunakan air sabun hangat yang bersih. Gunakan pula sikat kecil yang memang khusus digunakan untuk membersihkan dot Si Kecil dan tidak digunakan untuk hal lainnya. Setelah dibersihkan, lalu bilas dengan air bersih yang mengalir. Dan, dot Si Kecil siap untuk disterilisasi. Proses sterilisasi sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu manual atau otomatis. Untuk manual yang juga merupakan cara yang paling murah dan mudah adalah dengan merebusnya. Namun, Moms juga harus ingat, panci yang digunakan untuk merebus dot Si Kecil tidak digunakan untuk hal lainnya, seperti memasak sayur. Panci ini harus benar-benar hanya digunakan untuk sterilisasi saja. Pastikan ukuran panci cukup besar yang dapat membuat dot Si Kecil terendam sempurna. Rebus dalam air mendidih selama 5 menit lalu matikan api dan biarkan dingin. Pastikan pula dot yang direbus mempunyai bahan yang berkualitas sehingga tidak meleleh. Cara otomatis adalah dengan mesin sterilisasi yang banyak dijual. Moms dapat langsung membelinya dari toko online atau toko sekitar tempat tinggal Moms. Banyak mesin otomatis untuk mensterilisasi dot Si Kecil yang dapat melakukan proses ini dengan cepat, yakni dibawah 10 menit. Jadi, untuk Moms yang sibuk, cara ini dapat menjadi solusi terbaik. Atau, kalau Moms benar-benar ingin cara cepat, Moms dapat menggunakan Microwave. Buka dulu tutup dot Si Kecil lalu masukkan ke dalamnya dan cara ini hanya butuh waktu sekitar 90 detik. Moms hanya harus berhati-hati saat mengeluarkannya, karena akan terasa panas sekali.
Read more
Kata ‘jangan’ sering digunakan oleh para orangtua karena dianggap lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh anak. Tetapi penggunaan kata ‘jangan’ yang terlalu sering ternyata juga dapat membuat si kecil menjadi lupa dengan arti kata ‘jangan’ sebenarnya. Belum banyak orangtua yang menyadari bahwa banyak alternatif kata selain ‘jangan’ yang dapat digunakan ketika ingin menghentikan anak untuk melakukan suatu hal tertentu yang berbahaya. Moms dapat memilih kalimat pendek yang jelas supaya si kecil mengetahui kenapa dia harus menghindari dan melakukan hal tertentu. Kadang-kadang kemampuan si kecil untuk memahami perkataan dari orangtuanya tidak dapat dimengerti sepenuhnya oleh anak. Memang menggunakan kata ‘jangan’ sebenarnya tidak salah. Tetapi anak kadang tidak memahami perkataan orangtuanya. Sebagai contoh, orangtua mengatakan “jangan naik tangga’, si kecil kadang hanya mendengarkan bagian ‘naik tangga’ saja. Selain itu ketidakpahaman orangtua mengenai kemampuan buah hatinya menangkap pesan juga membuat mereka beranggapan bahwa si kecil justru memberontak atau tidak mengikuti perintah orangtuanya. Pada pola pendidikan modern sekarang ini, para orangtua dan pendidik dianjurkan untuk menghindari penggunaan kata ‘jangan’ ketika ingin melarang si kecil melakukan suatu hal. Hal ini karena kata ‘jangan’ dapat memberikan kesan negative. Oleh sebab itu sebaiknya kata tersebut diganti dengan kata lainnya yang lebih positif. Berikut ini adalah beberapa alasan lainnya mengapa sebaiknya Moms menghindari kata jangan. Mengganggu Kesenangan Sebagai contoh ketika si kecil sedang bermain kotor-kotoran dengan lumpur, Moms mengatakan. “Jangan main kotor-kotoran ya!” Memang perkataan ini dapat menghentikan tindakan si kecil yang sedang berkotor-kotor ria, tetapi tidak akan mengubah aktivitas yang sedang dilakukan si kecil. Larangan ini hanya akan menyebabkan efek rasa jengkel dan kesal pada si kecil. Menghambat Perkembangan Kreativitas Jika Moms sering mengatakan ‘jangan; saat si kecil melakukan sesuatu, dia tidak akan menuangkan hasratnya secara leluasa untuk berkreasi dan mengurangi rasa ingin tahu anak. Mempersempit Pilihan Saat Moms melarang si kecil melakukan sesuatu dengan mengatakan jangan, hal yang akan tersimpan di dalam otak si kecil adalah hal itu tidak boleh dilakukan. Lantas bagaimana bila suatu ketika si kecil dihadapkan pada keadaan sebaliknya tetapi dia tidak ingin melakukan hal itu karena dalam ingatannya tersimpan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan? Tidak Memberikan Solusi Kebanyakan kata ‘jangan’ yang diucapkan oleh orangtua tidak mengandung solusi. Sebagai contoh, “Jangan main hujan-hujanan ya!” Kalimat ini akan berbeda ketika Moms mengatakan, “Yuk main mobil-mobilan saja, nanti hujan-hujanan bisa sakit lho!” Secara umum banyak hal negatif dapat muncul dengan mengatakan ‘jangan’ kepada si kecil. Oleh sebab itu Moms sebaiknya menghindari kata ‘jangan’ dengan memilih kata-kata lain yang bersifat mengajak.
Read more
Menonton TV, film atau video dapat menjadi salah satu hiburan untuk Si Kecil. Tetapi, seringkali, video atau film yang ditayangkan tersebut mengandung hal-hal yang tidak baik untuk perkembangan mental maupun otak Si Kecil. Disinilah, Dads perlu turun tangan, untuk dapat mengawasi dan memilihkan tontonan yang baik dan sesuai untuk Si Kecil. Agar Dads dapat mudah mengawasi apa yang ditonton Si Kecil, sebenarnya ada beberapa cara mudah yang dapat Dads lakukan. Berikut beberapa diantaranya: Letak Televisi Cara paling mudah adalah meletakkan televisi di ruangan dimana Dads sering menghabiskan banyak waktu. Misalnya, bila Dads bekerja di rumah melalui internet, letakkan TV di ruangan dimana Dads biasanya menggunakan komputer atau laptop untuk bekerja. Atau, bila Dads mempunyai hobi mengkoleksi sesuatu yang diletakkan dalam satu ruangan, TV dapat juga diletakkan di ruangan tersebut. Dengan meletakkan TV di ruangan ini, maka Dads dapat melakukan aktivitas sambil melihat apa yang dilihat oleh Si Kecil. Tentunya, Dads juga harus menyediakan remote untuk mengontrol TV tersebut, kalau saja ada tayangan yang tidak sesuai, Dads langsung dapat menggantinya dari tempat Dads berada. Aplikasi Pengontrol Saat ini, tidak hanya TV saja yang dapat digunakan Si Kecil untuk menonton video atau film. Bila Si Kecil sudah akrab dengan gadget sejak kecil, Si Kecil juga dapat menggunakan gadget untuk menonton video di internet. Hal bahkan lebih berbahaya, karena Dads dan Moms akan lebih sulit mengontrolnya, karena tidak dapat menontonnya bersama secara langsung, seperti TV. Untungnya, saat ini sudah ada banyak aplikasi pengontrol yang dapat Dads gunakan untuk melindungi Si Kecil dari tayangan tak layak di internet. Dads hanya perlu mengunduh dan memasang aplikasi tersebut pada gadget Si Kecil. Atur apa saja yang boleh Si Kecil tonton dan Si Kecil akan terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Aplikasi-aplikasi pengontrol seperti ini juga memungkinkan Dads untuk melihat apa saja yang diakses dan ditonton Si Kecil. Acara Nonton Bersama Dads dan Moms juga dapat mengadakan acara menonton bersama dengan Si Kecil. Saat menonton bersama, Dads dapat menjelaskan dan mengajak diskusi Si Kecil mengenai tontonan yang ditonton. Mungkin tontonan tersebut terasa membosankan untuk Dads. Tetapi, Dads jangan lantas malas untuk menontonnya, tetapi demi Si Kecil, Dads juga harus ikut menonton.
Read more
Dads yang sibuk dengan pekerjaannya sudah pasti membuat waktu bersama si kecil menjadi sangat sedikit. Jarangnya interaksi antara Dads dan si kecil kadang membuat keadaan menjadi canggung ketika bertemu Dads saat akhir pekan. Hal ini tentu perlu dihindari antara Dads dan si kecil. Bagi Dads, akhir pekan merupakan waktu yang ideal untuk melakukan berbagai aktivitas bersama si kecil. Dads tidak harus mengajak si kecil ke luar rumah dan melakukan perjalanan yang jauh karena lingkungan di sekitar rumah pun juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan bersama. Lantas apa saja aktivitas yang dapat dilakukan saat weekend bersama si kecil? Bersepeda Bersama Dads dan si kecil dapat bersepeda mengelilingi lingkungan sekitar rumah, komplek perumahan, atau menempuh rute yang sedikit lebih jauh. Aktivitas ini dapat dilakukan saat pagi hari di mana udara masih segar. Jangan lupa untuk menyiapkan semua kebutuhan seperti memastikan kondisi sepeda dan membawa air minum. Di jalan, Dads dan si kecil dapat saling berkomunikasi mengenai hal baru yang diperoleh. Ayah dapat mengajak si kecil untuk tertib berlalu lintas dan melakukan hal lain yang dapat dilakukan di jalan. Memasak Bersama Salah satu hal sederhana yang sangat jarang dilakukan oleh seorang ayah adalah memasak. Bila kegiatan memasak biasanya dilakukan oleh Moms, sekarang adalah waktunya bagi Dads untuk memasak bersama si kecil. Sebelum pergi ke dapur dan mulai memasak, sebaiknya diskusikan lebih dulu menu apa yang ingin dimasak sehingga Dads dan si kecil dapat berbelanja bersama untuk mendapatkan bahan – bahan yang hendak dimasak. Saling bertukar pikiran dan menjalin keakraban mengenali hal yang masih baru bagi Dads tentu merupakan sebuah pengalaman tersendiri. Ketika bahan masakan sudah siap, Dads dan si kecil dapat bereksplorasi menggunakan menu dan bahan makanan yang ada. Tentunya makan siang di akhir pekan juga akan menjadi lebih spesial karena dimasak oleh Dads dan si kecil. Bermain Perang-perangan Mengatur skenario dan strategi perang yang sudah disepakati dapat menjadikan seisi rumah seperti arena peperangan yang asyik. Dads dan si kecil dapat menggunakan pistol mainan agar aksi perang lebih atraktif. Namun pastikan bahwa peralatan mainan yang digunakan aman untuk si kecil dan tidak berbahaya. Berkebun Mengajak si kecil agar lebih peduli lingkungan juga dapat menjadi kegiatan yang seru di akhir pekan. Siapkan bibit pohon yang akan ditanam bersama. Dads dapat mengajari si kecil bagaimana cara menanam dan menyiram tanaman.
Read more
Si kecil dengan dengan Moms tentu sudah biasa. Padahal menurut penelitian yang dilakukan di Oxford University, si kecil yang memiliki kedekatan dan sering berinteraksi dengan Dads akan lebih berhasil di bidang akademisnya di sekolah dan mempunyai IQ yang lebih tinggi. Selain itu, bayi yang dekat dengan Dads juga cenderung mempunyai emosi yang stabil sehingga saat dewasa, ia akan lebih percaya diri dan semangat untuk mengeksplorasi potensi dirinya. Sayangnya, sebagian anak tidak dekat dengan Dads karena berbagai faktor. Bahkan image atau pandangan Dads kadang terkesan menyeramkan dan galak. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa image Dads sering terkesan menyeramkan yaitu sebagai berikut: Berbicara Seperlunya Seorang laki-laki biasanya berbicara lebih sedikit dibandingkan wanita. Hal ini juga terjadi dengan Dads. Kadang Dads langsung berbicara apa adanya ketika ingin melarang si kecil melakukan sesuatu. Dads kadang juga kurang peka dalam memahami perasaan si kecil sehingga terkesan cuek dan tidak peduli. Padahal Dads  sebenarnya sangat peduli dengan si kecil. Hanya saja cara penyampaiannya yang kurang tepat. Canggung Beberapa Dads merupakan tipikal orang yang pendiam dan tidak terlalu suka banyak bicara. Kadang Dads pun merasa canggung untuk mengajak buah hatinya berbicara atau bermain sehingga terkesan cuek dengan si kecil. Sibuk Bekerja Dads yang sibuk bekerja dan jarang di rumah tentu jarang menghabiskan waktu bersama dengan si kecil. Oleh sebab itu hubungan pun menjadi tidak terlalu dekat dan Dads jadi terkesan seperti sosok yang asing dan menyeramkan di mata si kecil. Sulit Menahan Emosi Dads sebagai seorang lelaki biasanya lebih mudah emosi dibandingkan Moms yang lebih mampu menahan perasaan. Oleh sebab itu, Dads dianggap menyeramkan karena mudah marah dan jika mengatakan sesuatu cenderung apa adanya sehingga kadang menyakitkan hati si kecil. Nah jika si kecil menganggap Dads sebagai sosok yang menyeramkan, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan bersama dengan si kecil agar hubungan Dads dan si kecil menjadi lebih dekat. Beri Perhatian Ketika Si Kecil Sedih dan Menangis Cobalah mendekati si kecil saat ia sedih, menangis, atau ketikan. Ketika menangis, ia memerlukan dekapan ayah agar ia merasa nyaman dan tenang. Tenangkan dengan penuh kasih sayang dan sabar jika si kecil ketakutan atau menangis. Menyuapi Si Kecil Tugas yang sederhana ini ternyata juga dapat membuat si kecil semakin dekat dengan Dads. Memang untuk melakukan tugas ini diperlukan toleransi dan kesabaran pada si kecil karena ia biasanya makan sambil melakukan berbagai aktivitas seperti bermain. Lebih Banyak Bermain Dengan Si Kecil Kadang Dads lebih sibuk dengan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah, bermain smartphone atau menonton TV dibandingkan bermain dengan si kecil. Cobalah untuk menyisihkan sedikit waktu untuk si kecil dengan bermain bersama entah itu di kamar mandi, tempat tidur, halaman rumah, atau area lainnya di mana Dads berada. Melakukan aktivitas bersama si kecil akan membantu membangun ikatan batin antara Dads dengan si kecil.
Read more
Peraturan dalam permainan kadang dapat menghambat kreativitas si kecil saat bermain. Padahal bagi anak-anak, bermain bertujuan untuk kesenangan dan kegiatan untuk bermain itu sendiri bukan untuk melakukan pekerjaan dengan tujuan tertentu. Si kecil jelas perlu bermain. Masalahnya, jenis – jenis permainan dan mainan yang ada saat ini kadang tidak dapat memenuhi kebutuhan si kecil. Bermain ular tangga dengan segala peraturannya tidak sesuai dengan keinginan anak. Padahal ciri khas bermain sebenarnya adalah harus sesuai dengan keinginan si kecil dan dapat dilakukan dengan cara apa saja sesuai dengan keinginannya. Cara bermain anak seperti di masa lalu atau free play saat ini sudah mulai ditinggalkan. Padahal permainan tersebut sangat bermanfaat untuk si kecil bagi masa depannya karena mereka diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu dengan bebas tanpa terikat peraturan. Bagi para Moms yang saat ini sedang mencoba memberikan kegiatan free play untuk si kecil, berikut ini adalah beberapa tips yang dapat diperhatikan. Bayi Usia Di Bawah 12 Bulan Menendang – nendang sesuatu yang bergerak atau bahkan menggigit-gigit balok kelihatannya memang bukan kegiatan yang bermanfaat. Padahal pada saat bermain, otak si kecil akan bekerja mengatur informasi yang ia peroleh menjadi pola-pola bermakna sehingga ia dapat memperoleh kemampuan untuk mengontrol diri serta lingkungan. Untuk membantu si kecil, cobalah mengajaknya bersenang-senang sesering mungkin. Pada waktu si kecil bangun tidur, isilah dengan kegiatan bermain kemudian makan. Sekedar informasi, alat bermain yang paling disukai si kecil adalah Moms. Untuk alat bermain, Moms dapat memilih alat bermain yang sesuai dengan usianya agar dapat menstimulasi panca indranya dengan tepat misalnya rattles atau infant gyms. Ketika si kecil menjejakkan kakinya di lantai atau menendang-nendang, biarkan saja karena ini adalah proses bermain yang belajar serta melatih kemampuan motoriknya. Batita Pada usia ini, si kecil sangat senang mengeksplorasi tentang lingkungannya. Moms sebaiknya memilih mainan yang dapat dimainkan dengan berbagai cara misalnya bola, balok, boneka, dan berbagai benda sehari-hari misalnya kotak sepatu atau sendok kayu. Mainan tersebut dapat menggali imajinasi si kecil dibandingkan mainan yang hanya dapat melakukan satu hal. Balita Pada usia ini, Moms dapat mengajak si kecil untuk bermain peran. Saat bermain peran, ia dapat mengekspresikan diri dan kata-kata sesuai dengan apa yang diinginkan karena tidak dibatasi oleh aturan. Pada usia ini, si kecil sudah mampu memahami konsep yang lebih kompleks misalnya hubungan antar objek dan waktu. Kemampuan motorik si kecil yang semakin meningkat juga akan membuatnya mampu melakukan aneka aktivitas fisik.
Read more
Melatih ketrampilan motorik Si Kecil sangat penting, Moms. Dengan melatih ketrampilan motorik, Si Kecil bisa lebih aktif. Lalu, apa saja aktivitas yang bisa merangsang ketrampilan motorik Si Kecil? Sebelum itu, Moms harus tahu bahwa ketrampilan motorik terdiri dari ketrampilan motorik halus dan ketrampilan motorik kasar. Aktivitas yang mengasah motorik halus Saat di rumah, jangan biarkan Si Kecil berdiam diri. Untuk mengasah ketrampilan motorik Si Kecil, Moms bisa memberikan kertas gambar dan pensil warna. Biarkan Si Kecil membuat coretan atau menggambar. Moms pun bisa memberikan variasi seperti membiarkan Si Kecil menggambar dengan mencelupkan tangan ke cat air, menggambar dengan kuas, sikat, kapas, dan alat lainnya. Dengan begitu, motorik halus Si Kecil akan terbiasa dengan berbagai tekstur. Selain menggambar, Moms juga bisa mengajak Si Kecil untuk bermain puzzle. Puzzle akan membantu mengasah motorik halus khususnya mengenal bentuk yang berbeda. Lego dan balok juga bisa dijadikan pilihan permainan Si Kecil di rumah agar motorik Si Kecil terus terasah. Aktivitas yang mengasah motorik kasar Selain melatih motorik halus, Moms harus mengajak Si Kecil untuk melatih ketrampilan motorik kasar. Melatih motorik kasar untuk Si Kecil adalah dengan membiarkan mereka berlari, melompat, berjalan, dan lain sebagainya. Misalnya, Moms bisa membiarkan Si Kecil di taman belakang kemudian beri kesempatan agar mereka berlari. Agar lebih mengasyikkan padukan dengan permainan seperti mengoper bendera. Jangan khawatir jika Si Kecil mulai belajar memanjat. Dengan memanjat, Si Kecil sedang mengasah motorik kasar. Alih-alih melarang, dampingi Si Kecil saat memanjat dan pilihkan medan memanjat yang sesuai dengan umur mereka agar tetap aman. Jika ingin sesuatu yang sederhana, Moms bisa menyiapkan bola. Alihkan perhatian Si Kecil untuk memainkan bola tersebut di halaman rumah. Biarkan Si Kecil menendang, berlari, memegang bola, dan lain sebagainya karena aktivitas tersebut bisa mengasah motorik kasar Si Kecil. Akan sangat mengasyikkan jika Si Kecil bermain bersama Moms dan Dads. Intinya, Moms harus melatih motorik halus dan kasar secara seimbang. Jangan sampai Si Kecil terlalu berdiam di rumah dan hanya melatih motorik halus saja. Biarkan Si Kecil berkembang dan tugas Moms hanya menjaga agar Si Kecil tidak sampai terluka. Dengan melatih motorik kasar dan halus, Si Kecil akan menjadi aktif, kuat, dan sehat. Yang paling penting pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil menjadi lebih maksimal.
Read more
 

Like Our page