Kehamilan adalah masa tersulit yang dialami oleh Moms. Terlebih lagi bila masa kehamilan belum memasuki trimester ketiga, cobaan akan datang silih berganti mulai dari morning sickness, mual, dan tak doyan makan. Setelah memasuki masa aman atau trimester ketiga, biasanya Moms lebih mudah dalam menerima makanan. Tetapi, tetap saja Moms harus memperhatikan nutrisi, gizi, dan perubahan hormonal yang terjadi karena bisa menimbulkan diare. Penyebab Diare Diare bisa terjadi dikarenakan serangan bakteri, virus, keracunan, atau konsumsi obat-obatan selama kehamilan. Sebenarnya ada beberapa penyebab utama terjadinya diare pada saat hamil. Terjadinya Perubahan Hormonal Saat masa kehamilan, perubahan hormonal pada tubuh bisa berakibat sistem pencernaan akan bekerja lebih cepat atau justru malah lebih lambat. Bila sistem pencernaan itu bekerja cenderung melambat, maka Moms akan terkena konstipasi atau susah buang air besar. Namun, jika sistem pencernaan bekerja lebih cepat dari normal, maka Moms bisa terkena serangan diare. Perubahan Pola Makan Saat Hamil Selain perubahan hormonal, perubahan pola makan saat hamil juga berdampak terjadinya diare. Apa hubungannya? Moms biasanya cenderung memilih milih makanan yang akan dikonsumsi saat hamil. Pemilihan makanan yang lebih sehat terkadang membuat tubuh meresponnya dengan diare yang tiba-tiba. Hal ini dikarenakan tubuh yang biasanya tidak mencerna makanan tertentu harus beradaptasi untuk mengolah makanan tersebut. Sensitif Terhadap Suatu Makanan dan Makanan Tak hanya perubahan hormonal dan pola makan, terjadinya diare saat hamil juga bisa dikarenakan Moms sensitif terhadap jenis makanan tertentu yang dikonsumsi. Terkadang Moms juga alergi terhadap makanan itu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan diare saat hamil. Obat-obatan yang dikonsumsi juga bisa menyebabkan diare. Apalagi bila tubuh Moms tak pernah mengkonsumsi suatu obat atau vitamin tertentu. Tubuh harus beradaptasi untuk mencerna dan memproses obat-obatan tersebut. Cara Mengatasi Diare Saat Hamil Bila terpaksanya Moms sudah mengalami diare saat hamil, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Memperbanyak minum air putih berguna untuk mencegah terjadinya dehidrasi dan mengganti kebutuhan cairan dan elektrolit yang hilang. Ada baiknya Moms juga  menghindari beberapa penyebab terjadinya diare di atas. Moms juga harus memperhatikan kebersihan pada peralatan makan dan makanan yang akan dikonsumsi agar terhindar resiko terjadinya diare. Mudah bukan mengatasi diare saat hamil? Yang penting lakukanlah beberapa langkah di atas dan berkonsultasi pada dokter.
Read more
Hamil adalah kondisi yang dilematis bagi setiap Moms. Perawatan kehamilan begitu kompleks dan detail termasuk juga perawatan kesehatan gigi dan mulut. Menjaga kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan adalah hal penting loh. Jangan sampai Moms mengabaikannya karena berpengaruh terhadap kesehatan janin dan diri Moms sendiri. Perubahan Hormon Selama Kehamilan Wanita hamil pastinya mengalami beberapa perubahan di sana sini termasuk juga perubahan hormon yang sangat drastis. Jumlah hormon progesterone akan meningkat tajam. Hal ini pastinya berdampak signifikan terhadap rongga mulut. Jaringan lunak di dalam mulut menjadi mudah mengalami peradangan terutama bagian gusi. Kondisi ini ditandai dengan adanya bercak berwarna merah di gusi, darah pada area mulut, dan gusi menjadi bengkak. Penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya kebersihan gigi dan mulut saat kehamilan. Bila kebersihan dan kesehatan gigi mulut semakin rendah selama kehamilan, maka resiko yang ditimbulkan semakin besar. Adanya Perubahan Pola Makan Selama masa kehamilan, Moms biasanya menjadi mudah lapar sehingga makan dan minum dengan porsi jauh lebih banyak. Terkadang ada juga Moms yang menyukai jenis makanan tertentu saat kehamilan seperti makanan manis dengan kandungan gula yang tinggi. Hal ini akan memperbesar terjadinya karies pada gigi. Bila dibiarkan karies ini akan menimbulkan lubang gigi dan akan semakin sakit bila dibiarkan terus menerus. Kondisi ini akan mengganggu kesehatan Moms selama kehamilan. Menginfeksi Janin di dalam Kandungan Gigi berlubang yang menyebabkan infeksi berdampak sangat buruk bagi kesehatan Moms dan janin selama kehamilan. Infeksi pada gigi, mulut, dan gusi ternyata bisa menularkan infeksi pada janin yang dikandung Moms. Penularan infeksi ini bisa dilakukan melalui peredaran dan sirkulasi darah plasenta. Hal ini dikarenakan adanya kuman dan bakteri fusobacterium nucleatum yang akan menginfeksi gusi Moms yang sedang hamil. Kuman ini bisa ditemukan di dalam janin. Bila infeksi sudah semakin parah dan lama, maka ini akan meningkatkan resiko terjadinya keguguran. Mengganggu Kesehatan Jantung Ibu Hamil Infeksi pada gigi dan mulut tak boleh dipandang remeh. Berkembangnya bakteri di gigi berlubang bisa dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bila infeksi bakteri itu sudah mencapai jantung dan sengaja dibiarkan secara terus menerus, maka akan menyebabkan terjadinya gangguan jantung pada Moms yang sedang hamil. Beresiko untuk Melahirkan Bayi Prematur Selain resiko di atas, gangguan gigi dan mulut juga beresiko untuk membuat Moms melahirkan bayi prematur. Ibu hamil dengan masalah gigi mulut memiliki resiko 5 kali lebih besar untuk melahirkan bayi prematur dan dengan kondisi berat badan rendah. Oleh karena itu, jagalah kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan.
Read more
Memasuki trimester ketiga kehamilan atau persalinan, Moms akan merasakan lebih banyak keluhan karena kondisi kandungan yang kian membesar. Sambil menyiapkan kebutuhan untuk melahirkan, Moms juga harus waspada saat tubuh menunjukkan gangguan yang kurang menyenangkan. Salah satunya adalah sindrom mata kering (dry eye syndrome) yang sering dialami ibu hamil. Meski terkesan sepele, ternyata kalau Moms biarkan malah bisa mempengaruhi kesehatan, lho. Sebelum mengetahui penanganannya, mari kita mengenali lebih dalam tentang sindrom mata kering ini, yuk, Moms. Penyebab dan Gejala Sindrom Mata Kering Ada banyak penyebab yang memicu sindrom mata kering. Antara lain pemakaian lensa kontak, sedang menjalani masa pengobatan/penyembuhan, dan fluktuasi hormon yang sering terjadi di masa kehamilan. Ketika Moms sedang mengandung, produksi estrogen yang tinggi akan memicu berkurangnya produksi air mata yang mengantarkan kepada dry eye syndrome. Berikut ini gejala-gejala sindrom mata kering yang harus Moms kenali: Sensitif terhadap sinar/cahaya. Keringnya mata dapat meningkatkan sensitivas terhadap cahaya yang berada di sekitar Moms. Maka tak heran kalau Moms akan merasa silau dan sulit melihat. Gejala lain yang menyertai antara lain sensasi perih, karena mata yang kekeringan dan tidak mendapat perlindungan penuh; Menurunnya kemampuan untuk melihat. Jika biasanya Moms dapat membaca petunjuk dari jarak tiga meter, sindrom mata kering akan membuat kemampuan tersebut berkurang. Penglihatan Moms pun akan sedikit mengabur karena kornea yang kesulitan dalam mengatur titik fokus. Nah, kalau sampai terjadi, segera hubungi dokter mata, ya, Moms; Mata memerah. Gejala selanjutnya yang akan Moms rasakan saat mengalami dry eye syndrome adalah mata memerah. Hal tersebut bisa menjadi indikasi lain kalau mata Moms sedang stres dan memberi sinyal akan kurangnya cairan lubrikasi. Mata Moms juga akan terasa lengket dan berat saat terbuka setelah tidur. Penanganan Sindrom Mata Kering Untuk mengurangi keluhan mata kering di masa kehamilan, Moms dapat melakukan cara-cara berikut ini: Pakai kacamata hitam atau pelindung mata lain saat hendak beraktivitas di luar ruangan. Moms juga bisa menggunakan topi untuk melindungi mata dari paparan langsung sinar matahari; Berikan obat tetes mata secara rutin pada mata yang terasa kering. Penanganan ini biasanya dilakukan pada kasus sindrom mata kering yang masih tergolong ringan; Jika keluhan memburuh, maka Moms harus segera berkonsultasi dengan dokter.
Read more
Saat Si Kecil berusia 1 hingga 3 tahun, kemampuan motoriknya sedang sangat berkembang pesat. Jadi, Moms harus mendukung fase penting ini, agar fungsi motorik Si Kecil dapat lebih berkembang maksimal. Lalu, pertanyaan pentingnya, dengan cara apa Moms bisa mendukung perkembangan motorik Si Kecil? Ada banyak cara, tapi kalau Moms ingin menggunakan cara yang lebih menyenangkan, coba ajak Si Kecil membuat kue bersama. Cara yang terlihat menyenangkan dan mudah ini ternyata mampu melatih kemampuan motorik halus Si Kecil.  Ada banyak manfaat yang bisa Si Kecil dapatkan dari kegiatan menyenangkan ini. Pertama, Moms dapat melatih Si Kecil untuk mengenal tekstur dari bahan yang digunakan membuat kue. Ini dapat melatih indera peraba Si Kecil untuk mengenal berbagai bentuk dan tekstur. Informasi yang didapat dari menyentuh langsung seperti ini akan lebih baik daripada saat Moms mengajarinya dengan cara memberitahunya. Tapi agar lebih efektif, Moms juga bisa mengenalkan bahan tersebut dengan mengatakan dan menjelaskannya. Ini akan membuat Si Kecil lebih mudah mengerti dan ingat. Dengan menyentuh tekstur ini, Si Kecil juga akan bisa membedakan antara padat, cair, serbuk, licin, lengket dan lainnya. Setelah mengenal bahan, tahap selanjutnya mencampur bahan dalam wadah. Minta Si Kecil untuk melakukannya dengan hati-hati. Si Kecil dapat terlatih koordinasi mata maupun tangannya saat melakukan ini. Kegiatan ini juga bisa melatih refleks Si Kecil. Khususnya saat harus menyeimbangkan wadah agar bahan tidak tumpah. Namun, bukan berarti Moms harus marah atau kecewa saat ada bahan yang tercecer atau tumpah. Ini juga bisa Moms gunakan untuk melatih tanggung jawab dan disiplin untuk Si Kecil. Coba Moms menyuruh Si Kecil untuk membersihkan, dan beri pujian untuk Si Kecil setelah berhasil melakukannya.  Pujian bisa dalam bentuk pujian dengan kata-kata, pelukan atau lainnya. Saat mencetak dan mengolah adonan, Moms dapat memakainya untuk melatih koordinasi tangannya. Menggiling, menggulung, atau menggunakan cetakan adonan untuk membuat satu bentuk, bisa memperkuat kemampuan motorik halus Si Kecil. Langkah terakhir saat menghias kue juga menjadi kegiatan yang tidak hanya menyenangkan. Ini juga bisa menjadi cara untuk melatih kreativitas Si Kecil. Biarkan Si Kecil menghias kuenya sesuai dengan keinginannya. Setelah itu, Moms bisa memanggangnya atau memasaknya, dan saat hasil akhirnya selesai, ini akan menjadi satu kepuasan tersendiri untuk Si Kecil karena sudah berusaha dan berhasil membuat sesuatu.
Read more
Banyak orang yang berpikir bila Si Kecil yang berbadan gemuk terlihat lucu. Tapi tahukah Moms, bila kondisi ini bisa menjadi salah satu sumber masalah yang lebih banyak lagi di masa mendatang? Bila Si Kecil sudah memiliki masalah obesitas sejak kecil, maka kemungkinan mereka mendapatkan masalah kesehatan, mulai dari tekanan darah tinggi hingga serangan jantung akan lebih besar. Jadi, lebih baik bila Moms dan Dads mengetahui berat ideal untuk Si Kecil. Selain bisa digunakan sebagai referensi untuk mengontrol berat Si Kecil, ini juga bisa menjadi informasi berguna untuk menggunakan diet atau menu makanan yang lebih baik untuk Si Kecil. Biasanya berat dan tinggi berhubungan erat dengan kesehatan Si Kecil, maupun jenis kelaminnya. Namun, untuk Si Kecil yang masih berusia di bawah lima tahun, jenis kelamin tidak terlalu berpengaruh untuk tinggi dan beratnya. Berikut daftar untuk berat dan tinggi badan ideal untuk Si Kecil yang masih berusia dibawah 5 tahun. Umur Berat Ideal Tinggi Ideal Lahir 3,4 kg 50,5 cm 0 – 1 bulan 4,3 kg 55 cm 2 bulan 5 kg 58 cm 3 bulan 5,7 kg 60 cm 4 bulan 6,3 kg 62,5 cm 5 bulan 6,9 kg 64,5 cm 6 bulan 7,4 kg 66 cm 7 bulan 8 kg 67,5 cm 8 bulan 8,4 kg 69 cm 9 bulan 8,9 kg 70,5 cm 10 bulan 9,3 kg 72 cm 11 bulan 3,6 kg 73,5 cm 12 bulan 9,9 kg 74,5 cm 15 bulan 10,6 kg 62,5 cm 18 bulan 11,3 kg 65 cm 21 bulan 11,9 kg 67,5 cm 2 tahun 12,4 kg 69,5 cm Dengan melihat tabel diatas, Moms bisa memperkirakan bila Si Kecil sudah mempunyai berat badan yang sesuai dengan umurnya. Tapi yang perlu Moms ketahui, meskipun data yang tercantum di atas adalah berat badan ideal untuk Si Kecil, bukan berarti Si Kecil harus mempunyai berat badan maupun tinggi badan seperti tertera pada tabel. Ada banyak faktor yang mempengaruhi berat badan yang sesuai untuk Si Kecil, mulai dari sisi genetik. Biasanya, bila Moms dan Dads memiliki badan yang besar dan tinggi, Si Kecil juga akan mengikuti. Jadi, agar Si Kecil memiliki berat badan ideal, Moms harus memberikan nutrisi yang cukup dan rajin memeriksakan dan menimbang Si Kecil.
Read more
Pernahkah Moms melihat si kecil tertawa saat bayi? Melihat bayi tertawa pasti sangat menyenangkan karena si kecil terlihat bahagia. Ingin melihat si kecil yang masih bayi tertawa? Pakai cara ini saja Moms! Gelitikan Pernahkah Moms menggelitik si kecil? Bila pernah, bagaimana respon si kecil. Pasti si kecil akan tertawa atau tersenyum. Gelitikan merupakan salah satu alasan si kecil akan tertawa. Sentuhan dan aktivitas fisik si bayi biasanya direspon dengan tertawa. Sensasi gelitikan secara fisik lebih bisa dirasakan oleh si kecil daripada menceritakan cerita lucu. Moms juga bisa memberikan gerakan lucu saat menggelitik si kecil agar dia tertawa. Meniup Anggota Tubuh Apakah Moms pernah meniup salah satu bagian tubuh si kecil? Bagaimana reaksinya? Meniup bagian tubuh si kecil seperti pusar, perut, telapak kaki, ataupun tangan akan membuat si kecil geli dan pastinya dia akan tertawa geli. Tiupan itu akan mengenai kulit sehingga si kecil akan dengan cepat meresponnya. Ajaklah si kecil tertawa dengan cara ini. Mengajak Bercanda Si Kecil Setiap bayi pasti suka yang namanya petak umpet. Moms pasti juga pernah melakukannya. Coba ajaklah permainan ci luk ba seperti petak umpet dengan menutupi muka Moms dengan bantal. Kemudian, Moms memperlihatkan muka Moms. Tetapi, Moms harus melakukan gerakan atau suara mengagetkan si kecil agar si kecil tertawa. Dijamin si kecil akan segera tertawa dengan cara ini. Mengajak bercanda si kecil bisa menjadi alasan lain mengapa si kecil yang masih bayi bisa tertawa. Si bayi biasanya suka sekali dengan bentuk muka yang berubah secara mendadak. Muka konyol dan lucu akan membuat si kecil tertawa dan tersenyum. Jadi, tak perlu khawatir membuat si kecil tertawa senang. Mainan Lucu Yang Bersuara dan Bergerak Walaupun si kecil masih bayi, tak ada salahnya memberikan mainan lucu yang bersuara dan bergerak. Biasanya hal ini akan membuat si kecil tertawa bahagian melihat mainan tersebut. Tak jarang si kecil akan berusaha untuk merebutnya dari tangan Moms saking senangnya. Biasanya si kecil yang masih bayi lebih suka dengan suara – suara lucu sehingga dia akan meresponnya dengan tertawa. Itulah tadi beberapa alasan mengapa si kecil yang masih bayi bisa tertawa. Tapi, biasanya kondisi ini hanya terjadi pada bayi yang sudah bisa bergerak cukup aktif ya Moms.
Read more
Tahukah Moms, kalau cerita merupakan salah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan Si Kecil. Dengan cerita, maka Si Kecil akan lebih tertarik dan menyimak apa yang Moms katakan. Hal ini akan memudahkan Moms untuk menyampaikan pesan yang ingin Moms katakan pada Si Kecil. Tidak hanya itu, dengan bercerita atau membacakan dongeng untuk Si Kecil juga bisa menjadi salah satu cara untuk melatih kemampuan komunikasi Si Kecil. Akan tetapi, Moms tidak bisa begitu saja bercerita pada Si Kecil. Moms harus menyesuaikan cara bercerita yang Moms gunakan, sesuai dengan usia Si Kecil. Untuk Si Kecil Berusia 6 - 18 Bulan Pada usia ini, Si Kecil belumlah terlalu bisa berkomunikasi dengan baik. Si Kecil juga belum terlalu paham bahasa yang Moms gunakan. Jadi, pada rentang usia ini, sebaiknya Moms lebih menggunakan cara yang ekspresif saat menjelaskan sesuatu, gunakan juga cerita yang menggunakan benda-benda yang sehari-hari mudah ditemukan oleh Si Kecil dan biasanya Si Kecil berinteraksi dengan benda-benda tersebut. Dengan cara ini akan membuat Si Kecil lebih mudah paham, agar lebih efektif gunakan suara untuk menjelaskan tiap benda tersebut. Misalnya, bila Moms menjelaskan tentang “kucing”, tirukan suara kucing. Untuk Si Kecil Berusia 18 - 30 Bulan Pada usia ini, kosakata Si Kecil sudah cukup banyak. Si Kecil juga bisa lebih aktif dan ikut serta dalam pembicaraan. Pada usia ini, Moms dapat menggunakan cara yang ekspresif, dan ajukan juga pertanyaan-pertanyaan di tengah cerita. Moms dapat menggunakan ini untuk mengajak Si Kecil juga terlibat dalam cerita. Misalnya, saat Moms bercerita tentang satu tema, minta Si Kecil untuk melanjutkannya, contohnya “Saat Kancil pergi ke sungai, dia bertemu dengan...bua...ya”. Dengan cara ini Si Kecil akan lebih tertarik dan juga bisa berbicara lebih banyak lagi. Untuk Si Kecil Berusia 30 - 48 Bulan Rentang usia ini adalah usia di mana Si Kecil sudah sangat mengerti, kemampuan komunikasinya sudah sangat baik dan menurut ahli, ini adalah usia dimana Moms sudah bisa mengajarkan tentang norma dan nilai moral. Jadi, manfaatkan rentang usia ini untuk memberikan berbagai pesan dan cerita, atau contoh yang mampu membentuk pribadi Si Kecil menjadi lebih baik. Tapi Moms jangan hanya terus bercerita. Beri juga kesempatan Si Kecil untuk berbicara, agar kemampuannya itu terlatih dengan baik.
Read more
Karbohidrat adalah salah satu zat yang dibutuhkan tubuh untuk diolah menjadi tenaga. Jadi, bisa dikatakan sumber tenaga untuk tubuh kita adalah karbohidrat. Tapi, bila terlalu banyak mengonsumsinya, lemak juga tidak bisa terbuang dengan sempurna, yang menjadi penyebab tubuh gemuk. Bila ini terjadi pada Si Kecil, maka akan sangat berbahaya. Obesitas pada anak bisa menyebabkan banyak masalah kesehatan nantinya. Pertanyaan pentingnya, berapa banyak karbohidrat yang sesuai untuk Si Kecil, khususnya yang masih Balita? Untuk Si Kecil yang masih berusia 1 hingga 3 tahun, jumlah karbohidrat yang paling sesuai untuk Si Kecil adalah 145 gram per hari. Namun, Moms juga harus memilih jenis karbohidrat yang tepat. Jenis karbohidrat yang tepat tidak hanya akan efektif sebagai penyedia energi untuk Si Kecil, tetapi juga mengurangi resiko terjadinya masalah obesitas. Berikut beberapa jenis karbohidrat dan berapa jumlah yang baik untuk balita: Nasi Untuk nasi, sumber karbohidrat yang juga menjadi makanan utama orang Indonesia. Moms hanya perlu memberikan 2 hingga 5 sendok makan per satu kali makan. Jumlah ini yang paling sesuai karena nasi termasuk salah satu jenis makanan yang mengandung glukosa atau gula yang tinggi. Roti Untuk roti, jumlahnya tergantung jenis rotinya. Roti terbaik adalah roti gandum utuh (whole wheat) yang mengandung serat yang lebih tinggi daripada roti biasa. Untuk jenis ini, Moms bisa menggunakan takaran yang sudah ditetapkan pada standar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Menurut daftar AKG, Moms dapat memberikan setengah hingga satu potong utuh roti jenis ini untuk sekali makan. Sereal Sekali lagi, menurut takaran AKG, Moms hanya perlu memberikan sekitar 5 hingga 9 sendok makan setiap makan, untuk sereal. Hal terbaik dari sereal adalah tidak hanya mengandung karbohidrat dan serat, tetapi banyak produk sereal yang juga dilengkapi dengan nutrisi lainnya; seperti zat besi atau berbagai jenis vitamin. Pasta Ada berbagai jenis pasta yang bisa Moms gunakan untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat Si Kecil. Porsi yang tepat adalah 2 hingga 5 sendok makan setiap kali makan. Namun, perlu diingat agar Moms memasaknya dengan cara yang lebih sehat. Kentang Satu buah kentang ukuran sedang sudah cukup untuk kebutuhan karbohidrat Si Kecil dalam satu kali makan. Kentang tidak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga Vitamin C dan B kompleks yang baik untuk Si Kecil.
Read more
Kegiatan fisik sangatlah penting untuk mendukung proses perkembangan Si Kecil. Khususnya saat Si Kecil berusia 1-3 tahun, kegiatan fisik bisa sangat berpengaruh. Banyak dokter yang menyarankan untuk memberikan aktivitas fisik untuk rentang usia ini. Tapi, mereka juga menyarankan untuk memberikan aktivitas fisik yang sesuai untuk usia tersebut. Lalu, kegiatan fisik apa sajakah yang cocok untuk Si Kecil yang berusia 1-3 tahun? Untuk Si Kecil Berusia 1 Tahun Usia 1 tahun adalah usia di mana Si Kecil mulai belajar merangkak, berdiri dan berjalan. Jadi, kegiatan fisik yang sesuai untuk usia ini adalah kegiatan yang memungkinkan Si Kecil berpindah tempat atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Untuk mewujudkannya, Moms dapat mengajak Si Kecil bermain dalam ruangan. Berikan alas yang empuk, seperti karpet tebal agar saat Si Kecil terjatuh, tidak terjadi hal yang tidak membahayakan. Lalu, letakkan mainan atau benda kesukaan Si Kecil di beberapa tempat. Tujuan kegiatan ini adalah agar Si Kecil dapat merangkak dan berjalan untuk mengambil benda-benda kesukaannya tersebut. Selain itu, Moms juga dapat menggunakan kegiatan ini untuk melatih Si Kecil agar bisa disiplin dan membantu Moms membereskan mainanya. Untuk Si Kecil Yang Berusia 2 Tahun Saat usia ini, Si Kecil sudah mempunyai fisik yang lebih kuat dan berat badan yang lebih berat juga. Jadi, bisa dibilang, Si Kecil sudah cukup mampu untuk bergerak kemana pun sesuai keinginan dia. Aktivitas fisik yang bisa Moms lakukan untuk melatih Si Kecil sangat banyak. Moms dapat mengajak Si Kecil bermain petak umpet, atau menyembunyikan mainannya dan menyuruh Si Kecil untuk mencari dan menemukannya. Beri juga waktu, agar Si Kecil bisa bergerak lebih cepat untuk melatih fisik dan kakinya. Selain menyenangkan dan melatih fisiknya, kegiatan ini juga dapat melatih rasa ingin tahu Si Kecil. Untuk Si Kecil Yang Berusia 3 Tahun Pada usia ini, koordinasi gerak tubuh Si Kecil sudah berkembang jauh lebih baik. Jadi, Si Kecil sudah mampu bereaksi dengan baik saat menggerakkan kaki dan tangannya. Gerakan seperti menangkap bola atau lainnya sudah bisa dia lakukan. Jadi Moms dapat menggunakan aktivitas seperti bermain bola atau menari bersama. Moms dapat menyuruh Si Kecil untuk meniru gerakan Moms atau biarkan Si Kecil bergerak sesuka hatinya.
Read more
Saat Si Kecil sudah tumbuh giginya dan memasuki usia yang cukup, maka Moms dapat mulai memberikan makanan alternatif untuknya atau biasa disebut MPASI. Ada banyak jenis makanan alternatif yang bisa Moms berikan. Salah satunya adalah melon. Seperti yang sudah diketahui, mengkonsumsi buah sangatlah dianjurkan, karena buah mengandung banyak vitamin dan mineral, serta nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Untuk Melon, terdapat 4 manfaat yang bisa didapatkan oleh Si Kecil saat mengonsumsinya, berikut manfaat-manfaat tersebut: Asupan Cairan Melon merupakan buah yang mengandung banyak air. Jadi, dengan mengonsumsinya, kebutuhan asupan air harian Si Kecil juga terpenuhi. Tentu saja, ini harus diimbangi dengan konsumsi air yang cukup. Selain itu, bila dibandingkan dengan saat Si Kecil baru lahir, dimana Si Kecil belum banyak bergerak, kebutuhan air Si Kecil lebih banyak. Dengan mengkonsumsi buah Melon, maka Si Kecil akan mendapatkan hal ini. Otot dan Kemampuan Belajar Si Kecil Buah Melon mengandung zat yang bernama kolin. Zat inilah yang dapat membantu tubuh untuk membentuk otot dan memperkuatnya. Hal ini sangat berpengaruh, karena Si Kecil sudah banyak bergerak dan membutuhkan otot yang kuat untuk hal itu. Dengan mengkonsumsi buah melon dengan rutin, setidaknya, Si Kecil akan mendapatkan asupan yang mendukung untuk kegiatan yang dilakukannya. Pencernaan Buah Melon juga baik untuk sistem pencernaan Si Kecil. Dengan mengkonsumsi buah melon, maka kebutuhan akan serat sehat untuk pencernaan Si Kecil akan terpenuhi. Buah melon sendiri mengandung banyak serat. Bahkan, dengan mengkonsumsi satu potong buah melon, 10% kebutuhan serat harian sudah dapat dipenuhi. Ini tidak hanya baik untuk Si Kecil saja, Moms dan Dads juga dapat mengonsumsinya untuk kesehatan pencernaan. Kesehatan Kulit dan Rambut Buah Melon mengandung vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi. Dua jenis vitamin ini sangat penting untuk kesehatan kulit dan rambut. Untuk kulit, dua vitamin ini dapat merangsang produksi minyak yang dapat melindungi kulit. Lalu, bila hal ini terjadi di bagian kepala, maka kelembaban rambut Si Kecil juga akan terjaga. Kondisi ini akan mencegah terjadinya rambut kering dan patah yang dapat merusak rambut itu sendiri. Yang terakhir, Moms bisa mengolah buah melon dalam berbagai bentuk. Dengan cara ini, maka Si Kecil tidak akan bosan dan dapat menikmati buah ini.
Read more
Menurut beberapa penelitian, makanan yang dimakan oleh Si Kecil dapat mempengaruhi perkembangan otak dan kecerdasan. Salah satu zat yang terdapat dalam makanan dan dapat mendukung perkembangan kecerdasan Si Kecil adalah tirosin. Tirosin sendiri adalah salah satu zat dalam kelompok asam amino yang mampu menstimulasi pembentukan hormon dalam tubuh manusia. Tirosin juga yang berperan untuk merangsang produksi dopamine atau hormon bahagia. Jadi, dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat ini, maka Si Kecil akan tumbuh menjadi lebih sehat. Lantas, makanan apa sajakah yang mengandung tirosin? Keju Keju dapat dikatakan sebagai makanan sumber Tirosin terbaik. Terdapat kandungan Tirosin yang cukup tinggi dalam makanan berasa gurih dan enak ini. Namun, kandungan Tirosin yang ada dalam keju berbeda-beda sesuai dengan jenis kejunya. Misalnya pada keju permesan, terdapat kandungan Tirosin sebanyak 1.995 mg per 100 gram keju permesan. Lalu keju lainnya ada yang hanya mempunyai Tirosin sebanyak 399 mg per 100 gramnya. Pisang Tiap 100 gram pisang, terdapat sekitar 121 mg Tirosin. Kandungan ini dapat bertambah saat pisang semakin matang. Di tambah lagi, kandungan potassium dalam pisang yang berfungsi untuk memperkuat otot Si Kecil juga menjadi salah satu nilai tambah dari buah ini. Teksturnya yang lunak dan mudah dicerna juga menjadi alasan mengapa buah ini menjadi salah satu menu rekomendasi dalam MPASI. Daging Ayam Selain sebagai sumber protein yang baik, tiap satu ons daging ayam terdapat kandungan tirosin yang cukup tinggi, yaitu 1.500 mg. Untuk daging ini, Moms dapat memilih daging bagian dada. Hal ini disebabkan, bagian ini memiliki tirosin yang tinggi, tetapi kandungan lemaknya rendah. Ikan Moms dapat memilih ikan laut karena mengandung lebih banyak tirosin bila dibandingkan dengan ikan air tawar. Selain itu, ikan laut juga mengandung omega3 yang baik untuk perkembangan otak, mata dan jantung Si Kecil. Ikan juga dapat menjadi pilihan alternatif untuk Moms yang ingin menyajikan masakan yang berbeda untuk Si Kecil. Sayuran Hijau Sayuran hijau juga menjadi sumber tirosin yang baik, khususnya brokoli dan bayam. Menurut penelitian dari peneliti di Leiden University dan University of Amsterdam, dua jenis sayuran hijau ini dapat membantu perkembangan refleks Si Kecil. Sayangnya, rasanya yang tidak enak akan sangat sulit untuk membuat Si Kecil memakannya. Gunakan cara seperti membuat puree untuk sayuran ini dan dicampurkan pada nugget ayam atau ikan. Dengan cara ini maka Si Kecil mendapatkan asupan tirosin yang cukup.
Read more
Kulit terbakar merupakan salah satu masalah yang cukup serius yang bisa terjadi pada setiap orang, dan ini akan menjadi hal yang lebih serius lagi bila Si Kecil yang mengalaminya. Sayangnya, banyak kejadian dan peluang Si Kecil mengalami luka bakar seperti ini. Mulai dari Si Kecil tidak sengaja menyentuh air panas, setrika atau terbakar karena sinar matahari. Hal yang bisa Moms lakukan adalah merawatnya dan megobatinya. Berikut beberapa cara yang bisa Moms gunakan: Luka Bakar Ringan Biasanya luka bakar ini muncul akibat Si Kecil terkena air panas atau sejenisnya. Untuk menangani masalah kulit terbakar seperti ini, Moms hanya perlu menggunakan air dingin. Siram dengan air mengalir pada bagian kulit yang terbakar. Jangan gunakan mentega, pasta gigi dan sejenisnya, karena itu hanya mitos dan mungkin akan menimbulkan komplikasi pada kulit yang terluka. Bila kulit melepuh, gunakan krim khusus luka bakar untuk Si Kecil. Luka Bakar Serius Penanganan awal untuk luka bakar serius sama dengan luka bakar ringan. Moms harus menyiram bagian yang terluka dengan air dingin yang mengalir selama 10 hingga 20 menit. Jangan merendamnya atau menggunakan air es, karena bisa menimbulkan hipotermia. Buka juga pakaian atau kain yang menutupi luka bakar tersebut. Bila tidak bisa dilakukan, jangan dipaksa. Gunting kain atau pakaian ada di sekitar luka dan biarkan kain yang menempel pada luka. Lalu tutupi luka dengan kain bersih untuk melindunginya dari infeksi, tentu saja setelah itu Moms dapat membawa Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Luka Bakar di Mulut dan Tenggorokan Biasanya terjadi saat Si Kecil tidak sengaja menelan bahan berbahaya, seperti cairan pembersih lantai. Bila hal ini yang terjadi, maka Moms dan Dads harus segera membawa Si Kecil ke rumah sakit. Luka bakar jenis ini bisa berbahaya dan merusak organ dalam Si Kecil. Jadi, biarkan dokter dan yang lebih profesional yang menanganinya. Luka Bakar Akibat Sinar Matahari Gunakan kain yang sudah dibasahi dengan air dingin dan letakkan pada bagian kulit yang terbakar selama 10 hingga 15 menit. Jangan terlalu lama, karena Si Kecil bisa kedinginan. Gunakan juga salep atau krim pelembab khusus Si Kecil yang memang dibuat untuk menyembuhkan luka bakar akibat sinar matahari. Jangan lupa untuk selalu memakaikan tabir surya saat Si Kecil bermain di luar rumah.
Read more
 

Like Our page